PORTALBERITA.CO.ID - Fenomena *Quarter Life Crisis* kini menjadi tantangan psikologis yang nyata bagi generasi muda Muslim di tengah gempuran arus informasi digital. Media sosial sering kali menjadi panggung perbandingan yang tidak adil, di mana pencapaian orang lain seolah-olah menjadi standar mutlak kesuksesan hidup. Rasa cemas, takut tertinggal, hingga krisis identitas muncul ketika seseorang merasa langkahnya tidak secepat rekan sejawatnya. Padahal, dalam kacamata keimanan, setiap detak jantung dan langkah kaki manusia telah berada dalam pengawasan serta pengaturan terbaik dari Sang Khaliq.

Sebagai hamba yang beriman, kita harus menyadari bahwa ujian berupa kecemasan dan rasa kekurangan adalah bagian dari sunnatullah untuk meningkatkan derajat ketaqwaan kita. Allah SWT tidak membiarkan hamba-Nya berjalan sendirian dalam kegelapan ketidakpastian, melainkan memberikan petunjuk melalui kalam-Nya yang mulia. Setiap rasa sesak yang hadir saat melihat keberhasilan orang lain seharusnya dikembalikan kepada keyakinan bahwa Allah memiliki skenario yang jauh lebih indah daripada apa yang kita bayangkan. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ . الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Terjemahan: "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun' (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)." (QS. Al-Baqarah: 155-156)

Dalam menghadapi fase krisis ini, seorang Muslim dituntut untuk memperkuat *tawakkul* atau ketergantungan hanya kepada Allah SWT. Jika kita menyibukkan diri dengan memperbaiki hubungan dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki urusan dunia kita dengan cara yang tidak terduga. Janji Allah mengenai jalan keluar bagi setiap kesulitan adalah nyata bagi mereka yang menaruh harap hanya kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam surat At-Talaq yang memberikan harapan besar bagi jiwa-jiwa yang sedang merasa buntu:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Terjemahan: "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. At-Talaq: 2-3)

Mengenai ketetapan takdir ini, Rasulullah SAW telah memberikan penjelasan yang sangat mendalam dalam sebuah hadits panjang tentang penciptaan manusia. Penjelasan ini seharusnya membuat kita lebih tenang, karena segala aspek kehidupan kita, mulai dari rezeki hingga akhir hayat, sudah berada dalam genggaman kekuasaan Allah. Tidak ada satu pun pencapaian orang lain yang dapat mengambil porsi rezeki kita, dan tidak ada kegagalan yang dapat menghalangi apa yang telah Allah tetapkan untuk kita miliki. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ

Terjemahan: "Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama empat puluh hari (berupa nutfah), kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan untuk menuliskan empat tujuan: menuliskan rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah dia celaka atau bahagia." (HR. Bukhari dan Muslim)

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا . إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Terjemahan: "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Ash-Sharh: 5-6)