PORTALBERITA.CO.ID - Peristiwa memilukan terjadi di Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo, Solo, pada Senin (2/3/2026). Seorang pemuda berinisial E (23) dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan kerja yang sangat tragis di lokasi tersebut. Korban yang bertugas di bagian pemilahan sampah diduga terjatuh ke dalam mesin penggiling yang sedang beroperasi saat menjalankan tugasnya.
Pihak keluarga sebenarnya sempat memiliki firasat dan meminta korban untuk tidak berangkat bekerja pada hari nahas tersebut. Paino, paman korban, mengungkapkan bahwa keluarga berharap E bisa membantu kakeknya mengambil sampah di lingkungan tempat tinggal mereka. Permintaan tersebut diajukan karena kakak korban sedang sibuk mendampingi istrinya yang akan menjalani operasi persalinan di rumah sakit.
Meskipun sudah diminta untuk mengambil cuti, pemuda tersebut tetap memutuskan untuk tetap menjalankan kewajibannya di fasilitas pengolahan sampah itu. Paino mengaku baru mengetahui kabar duka tersebut saat dirinya sedang mengantre di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mojosongo. Ia sangat terkejut ketika dipanggil oleh istrinya yang membawa kabar bahwa keponakannya mengalami kecelakaan fatal di tempat kerja. "Tadi waktu saya antrean di TPA, dipanggil istri saya. Katanya anaknya 'Tole' masuk mesin, kegiles (tergilas)," kenang Paino dengan nada sedih saat ditemui di rumah duka. Ia menduga keponakannya itu pingsan terlebih dahulu sebelum akhirnya terseret masuk ke dalam roda gigi penggiling yang sangat kuat. Kondisi mesin yang berada di area tepi membuat risiko kecelakaan tersebut menjadi sangat tinggi bagi para pekerja pemilah.
Korban diketahui sudah mengabdi di PLTSa Putri Cempo selama kurang lebih tiga tahun sebagai tenaga pemilah sampah yang berdedikasi. Bagi Paino, sosok E bukan sekadar keponakan, melainkan sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Selama bekerja di sana, pemuda tersebut dikenal cukup rajin meskipun sempat mengambil libur selama beberapa hari sebelum kejadian mematikan itu.
Paino bahkan sempat berusaha memberikan pertolongan pertama dengan membopong tubuh korban sesaat setelah kejadian berlangsung di lokasi. Namun, ia merasa tidak kuat melanjutkan proses evakuasi setelah menyadari bahwa nyawa keponakannya sudah tidak tertolong lagi akibat luka yang diderita. Insiden ini menyisakan duka mendalam bagi seluruh anggota keluarga yang saat itu sedang menantikan kelahiran anggota keluarga baru.
Jenazah pemuda malang tersebut segera dibawa ke rumah duka yang berlokasi di Jeruksawit, Gondangrejo, Karanganyar untuk disemayamkan oleh pihak keluarga. Rencananya, prosesi pemakaman akan dilangsungkan pada pukul 17.00 WIB di TPU Astoni Banyu Bening dengan pengawalan dari kerabat dekat. Kasus kecelakaan kerja ini menjadi pengingat keras akan pentingnya standar keselamatan yang ketat di lingkungan operasional alat berat.
Sumber: Infonasional