PORTALBERITA.CO.ID - Di era disrupsi informasi ini, wajah dakwah Islam mengalami transformasi fundamental dari ruang-ruang taklim konvensional menuju layar gawai yang serba cepat. Generasi Z, sebagai *digital natives*, kini memegang kendali atas narasi keagamaan di ruang siber, namun hal ini membawa tantangan besar berupa risiko pendangkalan makna spiritual. Fenomena ini menuntut kita untuk tidak sekadar menjadi konsumen informasi, melainkan penyaring yang bijak di tengah rimba algoritma yang sering kali mengabaikan esensi demi mengejar viralitas dan sensasi sesaat.

Dakwah di dunia digital sejatinya harus tetap berpijak pada metode yang telah digariskan oleh Al-Qur'an, yakni dengan hikmah dan nasihat yang baik. Kecepatan teknologi tidak boleh melunturkan kelembutan dan kedalaman pesan yang disampaikan kepada umat, karena hakikat dakwah adalah menyentuh hati, bukan sekadar memenangkan perdebatan di kolom komentar. Allah SWT telah memberikan panduan eksplisit mengenai bagaimana seharusnya sebuah ajakan kebaikan itu dikemas agar dapat diterima oleh akal sehat dan hati yang jernih.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Terjemahan: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl: 125)

Di tengah derasnya arus hoaks dan fitnah di media sosial, sikap *tabayyun* atau verifikasi informasi menjadi perisai utama bagi setiap Muslim. Kita diperintahkan untuk tidak terburu-buru menyebarkan berita atau potongan ceramah sebelum mengetahui konteks dan kebenarannya secara menyeluruh. Hal ini sangat krusial agar kita tidak terjebak dalam dosa jariyah akibat menyebarkan pemahaman yang keliru kepada khalayak luas yang dapat memicu perpecahan di antara sesama saudara seiman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Terjemahan: Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat: 6)

Menanamkan adab sebelum ilmu adalah prinsip klasik yang harus direvitalisasi dalam interaksi di dunia maya. Sering kali, perdebatan di media sosial mengabaikan etika berkomunikasi yang santun, sehingga dakwah yang tujuannya merangkul justru berujung memukul perasaan orang lain. Seorang dai digital harus mampu mencerminkan akhlak mulia dalam setiap unggahan dan interaksinya, karena perilaku (*hal*) sering kali lebih berbicara dan membekas daripada sekadar kata-kata (*qal*) yang hampa tanpa keteladanan.

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam cara beliau menyampaikan kebenaran dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Mengikuti sunnah beliau di era digital berarti menggunakan teknologi sebagai wasilah untuk menyebarkan kedamaian, bukan kebencian atau perpecahan yang merusak ukhuwah. Dengan menjadikan sosok Nabi sebagai kompas moral, konten dakwah yang dihasilkan akan memiliki ruh yang mampu menggerakkan perubahan positif dalam masyarakat secara luas.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sumber: Muslimchannel

https://muslimchannel.id/post/menanam-benih-adab-di-rimba-digital-tantangan-dakwah-bagi-generasi-z