PORTALBERITA.CO.ID - Membangun sebuah peradaban yang luhur bukanlah sekadar tentang kemegahan infrastruktur fisik atau dominasi kekuatan ekonomi global. Peradaban yang hakiki dalam pandangan Islam adalah sebuah tatanan kehidupan yang berpijak pada kualitas kemanusiaan, keluhuran budi pekerti, dan ketaatan kepada Sang Pencipta. Dalam konstruksi besar ini, Muslimah memegang peran yang sangat fundamental sebagai fondasi sekaligus arsitek yang merancang masa depan umat. Islam menempatkan perempuan dalam posisi yang sangat mulia, bukan sebagai entitas yang terpinggirkan, melainkan sebagai mitra sejajar bagi laki-laki dalam menjalankan amanah besar sebagai *khalifatullah fil ardh* (wakil Allah di muka bumi).
Kemitraan yang harmonis antara laki-laki dan perempuan dalam membangun tatanan sosial yang ma'ruf telah digariskan secara tegas dalam Al-Quran. Allah SWT menegaskan bahwa keberhasilan sebuah peradaban sangat bergantung pada sinergi antara keduanya dalam menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Tanpa keterlibatan aktif dari kaum perempuan yang memiliki kedalaman spiritual dan kecerdasan intelektual, maka bangunan peradaban tersebut akan pincang dan kehilangan ruh kemanusiaannya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Terjemahan: "Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. At-Taubah: 71)
Pentingnya kedudukan ilmu bagi orang-orang beriman, termasuk para Muslimah, ditekankan oleh Allah SWT dalam ayat yang memotivasi kita untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Dengan ilmu, seorang perempuan mampu menganalisis fenomena zaman dan memberikan solusi yang relevan bagi problematika umat. Derajat yang tinggi dijanjikan bagi mereka yang mampu menyelaraskan antara iman yang kokoh dan ilmu yang luas, sebagaimana ditegaskan dalam ayat berikut:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, 'Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,' maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, 'Berdirilah kamu,' maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah: 11)
Seringkali, diskursus mengenai peran perempuan terjebak dalam dikotomi yang sempit antara peran domestik dan peran publik. Padahal, dalam Islam, kedua ranah ini adalah ladang amal yang saling terintegrasi dan memiliki nilai ibadah yang sama besarnya di mata Allah jika dilakukan dengan niat yang benar. Seorang Muslimah adalah pemimpin di rumah tangganya, pendidik bagi anak-anaknya, sekaligus kontributor bagi kemajuan bangsanya. Tanggung jawab ini merupakan amanah kepemimpinan yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.
Rasulullah SAW memberikan gambaran yang sangat komprehensif mengenai tanggung jawab kepemimpinan ini, di mana perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas dan kualitas generasi di dalam rumah tangganya. Kepemimpinan ini bukan berarti pengurungan, melainkan sebuah otoritas untuk mencetak karakter manusia yang unggul. Beliau bersabda dalam sebuah hadis yang panjang:
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ، وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ، وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ
Terjemahan: "Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Dan seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka." (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)
Sumber: Muslimchannel