Dulu, aku hidup dalam gelembung kaca yang nyaman, di mana matahari selalu bersinar dan masalah hanyalah cerita fiksi. Kedewasaan bagiku adalah konsep abstrak, sesuatu yang otomatis datang seiring bertambahnya usia, bukan melalui proses tempaan yang menyakitkan. Aku adalah Arya yang manja, yang percaya bahwa jaring pengaman keluarga akan selalu tersedia.
Namun, kehidupan memiliki skenario yang jauh lebih dramatis dari yang kubayangkan. Badai datang tanpa peringatan, bukan dalam bentuk hujan, melainkan dalam bentuk surat tagihan dan tatapan mata Ayah yang tiba-tiba kehilangan pijakan. Bisnis yang dibangun bertahun-tahun runtuh dalam sekejap, dan tiba-tiba, gelembung kacaku pecah berkeping-keping.
Tanggung jawab itu menukik tajam, menghantam bahuku yang belum siap memikul beban. Aku harus menunda impian kuliahku di luar kota dan mulai mencari pekerjaan apa pun, dari pagi hingga larut malam. Bukan lagi tentang memilih apa yang kusukai, tetapi tentang memastikan ada makanan di meja dan obat untuk Ibu.
Malam-malam panjang di depan layar komputer, menghitung sisa uang dengan cermat, adalah sekolah terbaik yang pernah kumasuki. Rasa lelah fisik tak seberapa dibandingkan rasa malu dan putus asa yang sesekali menyergap. Aku merindukan Arya yang dulu, yang hanya peduli pada jadwal film terbaru dan permainan daring.
Perlahan, aku mulai melihat dunia dengan lensa yang berbeda. Aku memperhatikan betapa kerasnya orang-orang di sekitarku berjuang hanya untuk bertahan. Empati tumbuh, bukan dari buku, melainkan dari keringat dan air mata yang kutemui di setiap sudut kota tempat aku mencari nafkah.
Aku menyadari bahwa setiap kesulitan, setiap kegagalan, hanyalah babak baru yang harus kutulis. Seluruh perjalanan ini adalah Novel kehidupan yang tidak bisa diulang, dan aku harus menjadi penulis sekaligus pemeran utamanya yang kuat. Aku berhenti menyalahkan takdir dan mulai mengambil pena untuk menentukan alur cerita selanjutnya.
Kini, situasinya jauh membaik. Kami berhasil melewati fase terburuk itu, bukan tanpa bekas luka, tetapi dengan fondasi yang jauh lebih kokoh. Aku tidak lagi takut pada kegagalan; aku justru menghargai setiap kali aku tersandung, karena di sanalah aku belajar cara bangkit yang paling efektif.
Arya yang sekarang mungkin tidak sekaya Arya yang dulu, tetapi ia jauh lebih kaya akan pengalaman dan kebijaksanaan. Kedewasaan bukanlah tentang usia, melainkan tentang seberapa cepat kita mampu mengubah rasa sakit menjadi kekuatan yang menggerakkan.
Aku menutup buku harian itu, menyimpan kenangan pahit manis ini. Jika badai lain datang, aku tahu aku siap, sebab aku telah menemukan bahwa kekuatan terbesar seorang manusia bukan terletak pada apa yang ia miliki, melainkan pada kemampuan hatinya untuk tetap berlayar setelah kapalnya karam.



