Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan akan datang seiring dengan perayaan ulang tahun ke-dua puluh lima, sebuah proses alami yang dihiasi lilin dan janji-janji manis. Hidupku saat itu hanyalah serangkaian mimpi yang harus dikejar, tanpa pernah benar-benar mempertimbangkan gravitasi atau realitas yang keras. Aku adalah seorang pemimpi yang terlindungi, mengira dunia adalah kanvas tanpa batas.
Namun, semesta punya rencana lain. Telepon larut malam itu, berisi suara Ibu yang tercekat menahan tangis, adalah alarm paling memekakkan yang pernah kudengar. Bisnis Ayah hancur, dan tiba-tiba, semua kemewahan yang selama ini menjadi udara bagiku lenyap dalam sekejap mata.
Aku harus mengubur rencana kuliah di luar negeri dan menukar buku-buku tebal dengan tumpukan berkas tagihan yang tak masuk akal. Ini adalah fase hidup di mana aku belajar bahwa uang bukanlah segalanya, tetapi ketiadaannya bisa merenggut segalanya. Aku mulai bekerja serabutan, menghadapi penolakan demi penolakan yang terasa seperti tamparan dingin.
Ada malam-malam di mana aku duduk sendirian di kamar yang gelap, bertanya mengapa beban ini harus menimpaku saat usiaku masih seharusnya dipenuhi tawa riang. Air mata yang jatuh bukan hanya karena lelah fisik, tetapi karena rasa malu dan putus asa yang menggerogoti. Aku merasa seperti gagal, bahkan sebelum aku sempat memulai hidupku sendiri.
Titik balik itu datang ketika aku berhasil meyakinkan seorang kreditur untuk memberikan perpanjangan waktu, hanya dengan modal kejujuran dan mata yang memerah karena kurang tidur. Di momen itu, aku menyadari bahwa kekuatan terbesar manusia bukanlah pada apa yang mereka miliki, melainkan pada kemampuan mereka untuk bertahan dan berkomunikasi dengan hati.
Aku mulai melihat kesulitan ini sebagai babak paling penting dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Setiap kesulitan adalah paragraf yang membentuk karakter, setiap air mata adalah tinta yang memperkuat narasi. Kedewasaan bukanlah tentang kebebasan, melainkan tentang kesiapan memikul beban tanpa mengeluh.
Dunia yang tadinya tampak cerah dan mudah kini terlihat lebih kompleks, namun ironisnya, justru lebih indah. Aku belajar menghargai secangkir kopi panas di pagi hari, senyum tulus dari rekan kerja yang sama-sama berjuang, dan tidur nyenyak setelah seharian penuh keringat. Hal-hal kecil itulah yang menopang jiwaku.
Kini, aku berdiri di atas kaki sendiri, bukan lagi gadis yang takut akan kegagalan, melainkan wanita yang tahu bagaimana bangkit setelah terjatuh berkali-kali. Bekas luka finansial dan emosional itu tidak hilang, tetapi mereka menjadi peta yang menunjukkan seberapa jauh aku telah melangkah.
Aku telah kehilangan banyak hal, tetapi sebagai gantinya, aku mendapatkan diriku yang sesungguhnya—versi yang jauh lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih mampu mencintai. Pertanyaannya sekarang, setelah badai berlalu, apakah aku akan kembali mengejar mimpi yang sempat ku tinggalkan, atau justru menciptakan mimpi baru di atas fondasi yang telah ku bangun dengan susah payah ini?



