Aku ingat betul, di usia awal dua puluhan, aku memiliki peta hidup yang terstruktur rapi; kuliah arsitektur, magang di luar negeri, dan membangun gedung pencakar langit. Masa depan terasa seperti kanvas putih yang siap dilukis dengan warna-warna paling cerah, penuh dengan ambisi dan keyakinan naif bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai jadwal. Aku adalah master perencana, dan kegagalan hanyalah kata yang asing.
Namun, hidup memiliki selera humor yang gelap. Sebuah panggilan telepon larut malam menghancurkan semua peta itu menjadi remah-remah. Ayah jatuh sakit parah, dan tiba-tiba, tanggung jawab Warung Kopi Senja yang terancam bangkrut jatuh sepenuhnya ke pundakku, bersamaan dengan kewajiban membiayai sekolah adikku.
Keputusan itu terasa seperti merobek jiwaku sendiri: melepaskan beasiswa impian di ibu kota demi bau sangit kopi dan asap rokok di warung kecil yang bahkan tidak aku cintai. Aku merasa dikhianati oleh takdir, marah pada semesta yang memaksa aku menukar cetak biru gedung tinggi dengan daftar utang yang menggunung.
Hari-hari awal adalah bencana total. Aku tidak tahu cara membedakan robusta terbaik dari yang biasa, aku keliru menghitung kembalian, dan wajahku selalu ditekuk karena frustrasi melayani pelanggan yang cerewet. Setiap sore, saat warung tutup, aku menangis diam-diam di balik meja kasir, merasa seolah aku telah gagal bahkan sebelum aku memulai kehidupan dewasaku.
Titik terendah itu datang ketika seorang rentenir datang menagih dengan wajah dingin, mengancam akan menyita warung yang dibangun Ayah dengan keringatnya. Saat itulah aku menyadari bahwa kedewasaan bukanlah tentang berapa banyak gelar yang kau raih, melainkan seberapa besar kau mampu memanggul beban yang tidak pernah kau minta.
Aku mulai mengubah perspektif. Aku berhenti meratapi mimpi yang hilang dan mulai fokus pada apa yang ada di tanganku: Warung Kopi Senja. Aku mulai belajar dari nol, mendengarkan saran para pelanggan setia, dan mengubah resep kopi yang terlalu kuno.
Aku membaca setiap kegagalan sebagai babak baru yang harus aku tulis ulang. Jika sebelumnya aku mengira hidup adalah skenario film yang sempurna, kini aku sadar bahwa ini adalah sebuah Novel kehidupan yang penuh revisi mendadak, plot twist menyakitkan, namun juga kejutan manis yang tak terduga.
Perlahan, Warung Kopi Senja mulai ramai kembali. Aku menemukan kepuasan yang berbeda, bukan dari mendesain fasad mewah, tetapi dari senyum pelanggan yang menikmati kopi racikanku, dan melihat adikku bisa melanjutkan sekolah tanpa khawatir. Aku tidak lagi merindukan gedung pencakar langit, karena aku sedang membangun fondasi yang jauh lebih kuat: karakterku sendiri.
Aku belajar bahwa kedewasaan sejati bukanlah pencapaian usia, melainkan penerimaan pahit bahwa terkadang, rencana terbaik adalah rencana yang tidak pernah kita buat. Dan kini, setelah melewati badai, aku bertanya-tanya: mampukah aku membiarkan diri jatuh cinta pada kehidupan yang tidak pernah aku pilih ini, ataukah di suatu pagi, ambisi lama akan kembali memanggilku?



