Surat penerimaan itu terlipat rapi di saku jaket, bau kertasnya masih mengingatkan pada aroma janji masa depan yang cerah, ribuan kilometer jauhnya. Beasiswa seni bergengsi yang kuimpikan sejak remaja akhirnya kudapatkan, tiket emas menuju galeri-galeri Eropa yang selalu hadir dalam khayalanku. Aku siap melompat, meninggalkan kehidupan lama yang terasa terlalu sempit.

Namun, hidup punya cara brutal untuk menarik kembali tali layang-layang yang baru saja dilepas. Tiga hari sebelum keberangkatan, ayah jatuh sakit parah, dan bersamaan dengan itu, terkuaklah tumpukan utang yang membelit toko kerajinan kayu milik keluarga kami. Seketika, kanvas mimpiku robek, digantikan oleh realitas yang dingin dan menuntut.

Aku ingat malam itu, duduk di lantai kamar, menatap tiket pesawat dan surat beasiswa yang kini terasa seperti ejekan. Ada pertarungan hebat antara ego yang ingin meraih cita-cita dan hati yang terikat pada tanggung jawab. Dengan tangan gemetar, aku merobek surat itu menjadi serpihan kecil, sebuah perpisahan yang menyakitkan dengan Risa yang seharusnya.

Dunia seni kini tergantikan oleh dunia akuntansi yang rumit, negosiasi dengan pemasok yang marah, dan keringat mengamplas kayu hingga larut malam. Aku yang terbiasa memikirkan komposisi warna, kini harus berjuang memahami komposisi neraca keuangan yang selalu defisit. Setiap hari adalah medan perang baru, penuh rasa takut akan kegagalan yang akan menghancurkan warisan ayah.

Aku belajar berbicara tegas, menelan harga diri saat harus memohon tenggat waktu, dan yang terpenting, aku belajar mendengarkan. Pelanggan lama yang sering mengeluh ternyata adalah guru terbaik dalam memahami kualitas dan integritas. Kedewasaan ternyata tidak datang dari pencapaian gemilang, melainkan dari kemampuan berdiri tegak saat badai menerjang.

Periode ini mengajarkanku bahwa hidup adalah sebuah kurikulum tanpa akhir, dan seluruh proses ini terasa seperti sebuah *Novel kehidupan* yang bab-babnya harus kutulis sendiri, tanpa editor dan tanpa jaminan akhir bahagia. Setiap keputusan pahit, setiap tetes air mata saat menghitung kerugian, adalah tinta yang menguatkan karakterku.

Perlahan tapi pasti, toko itu mulai bernapas lega. Aku tidak lagi melihatnya sebagai beban, melainkan sebagai sebuah mahakarya baru—sebuah instalasi yang terbuat dari ketekunan dan cinta. Aku menemukan keindahan dalam rutinitas, dan kepuasan melihat senyum tulus para pekerja yang kini gajinya bisa kubayarkan tepat waktu.

Aku mungkin tidak pernah melukis di Paris atau memamerkan karyaku di London, tetapi aku telah menciptakan sesuatu yang jauh lebih substansial: stabilitas dan harapan bagi keluargaku. Pengorbanan yang dulu terasa seperti akhir dunia, kini kusadari adalah jembatan menuju diriku yang sebenarnya.

Saat senja tiba dan sinar jingga menyentuh tumpukan serbuk kayu, aku menutup pintu toko. Rasa lelah membalut tubuh, namun ada kekuatan sunyi yang mengisi rongga dada. Aku tidak lagi merindukan Risa si seniman ambisius; aku menghargai Risa yang sekarang, yang tahu bahwa keberanian terbesar adalah memilih cinta di atas mimpi. Mungkinkah pengorbanan ini hanyalah permulaan dari sebuah perjalanan yang lebih besar?