Aku selalu hidup dalam zona nyaman yang hangat, sebuah gelembung kaca yang kupikir takkan pernah pecah. Di mata orang lain, aku mungkin terlihat cerdas dan berbakat, namun jauh di lubuk hati, aku tahu bahwa keputusan terberat dalam hidupku selalu diurus oleh bayangan orang-orang dewasa di sekitarku. Aku adalah penumpang, bukan nakhoda.
Semua berubah ketika badai finansial itu menerpa, menggulung semua yang telah dibangun ayahku selama puluhan tahun hingga hanya menyisakan puing. Tiba-tiba, mata semua orang tertuju padaku, menuntut solusi dan kepastian yang bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana cara memberikannya. Beban tanggung jawab itu terasa seperti batu granit yang diletakkan di atas tulang rusukku.
Malam-malamku dipenuhi dengan angka-angka yang menari liar dan telepon dari kreditor yang suaranya tajam menusuk. Aku ingat betul saat pertama kali aku menangis bukan karena sedih, melainkan karena rasa takut yang mencekik—ketakutan akan kegagalan yang bukan hanya menimpaku, tapi juga seluruh keluargaku.
Namun, di tengah keputusasaan itulah, sebuah percikan api muncul. Jika aku tidak bisa menjadi nakhoda yang sempurna, setidaknya aku harus menjadi nakhoda yang berani. Aku mulai belajar hal-hal yang dulu kuhindari: negosiasi, manajemen krisis, dan yang terpenting, mengakui bahwa aku tidak tahu segalanya.
Proses itu menyakitkan, penuh dengan penolakan dan pengorbanan yang tak terhitung. Aku harus melepaskan mimpi-mimpi pribadiku sejenak demi memegang kemudi kapal yang hampir tenggelam. Rasa sepi itu nyata, karena orang yang biasa menjadi tempatku bersandar kini justru bersandar padaku.
Setiap kesalahan yang kubuat, setiap kerugian yang kuderita, adalah goresan tinta permanen pada lembaran takdirku. Pengalaman ini mengajarkanku bahwa kedewasaan bukanlah tentang usia, melainkan tentang seberapa siap kita menerima konsekuensi dari pilihan kita. Inilah babak terberat dan paling berharga dari Novel kehidupan yang sedang kutulis.
Perlahan, puing-puing itu mulai tersusun kembali, tidak lagi menjadi bangunan megah yang dulu, melainkan fondasi yang lebih kokoh, dibangun dari keringat dan air mata. Aku tidak lagi mencari pujian; kepuasan terbesar adalah ketika aku bisa menepati janji-janji yang kubuat di tengah badai.
Aku menatap cermin, melihat refleksi diriku yang berbeda. Mataku lebih tajam, garis wajahku lebih tegas, dan di sana ada ketenangan yang dulu tidak pernah kumiliki. Aku telah berdamai dengan luka-luka masa lalu, menyadari bahwa merekalah yang membentuk baja dalam diriku.
Kedewasaan yang sejati bukanlah tujuan, melainkan perjalanan yang tak pernah usai, di mana kita terus menerus belajar untuk berdiri tegak meski badai tak kunjung reda. Apakah badai berikutnya akan datang? Tentu saja. Tapi kini, aku tahu bahwa aku memiliki peta dan kompas yang takkan pernah bisa dicuri oleh dunia: diriku sendiri.


