Aku selalu hidup dalam gelembung idealisme, percaya bahwa semangat saja cukup untuk menaklukkan dunia. Di usia awal dua puluhan, aku mendirikan sebuah galeri seni komunitas—impian yang kuberi nama "Sangkar Mimpi"—dan merasa tak tersentuh oleh realitas pahit di luar sana. Aku melihat kegagalan sebagai opsi yang hanya berlaku untuk orang-orang yang kurang gigih, bukan untuk diriku.
Namun, dunia punya cara kejam namun indah untuk merobek gelembung itu. Badai finansial yang tak terduga menghantam, ditambah pengkhianatan dari rekan kerja yang kupercayai, membuat Sangkar Mimpi runtuh tak bersisa hanya dalam hitungan bulan. Aku tidak hanya kehilangan impianku, tetapi juga seluruh tabungan dan harga diriku di depan orang-orang yang selama ini mendanai visiku.
Rasa malu itu begitu pekat, seolah aku membawa beban ribuan ton di pundakku. Sempat terlintas keinginan untuk melarikan diri ke kota lain, menghapus jejak Risa yang gagal dan memulai lembaran baru yang bersih. Aku ingin menjadi pengecut yang berlari dari konsekuensi, daripada menghadapi tatapan skeptis dan cibiran yang terasa menusuk.
Tetapi, ada suara kecil di dalam diriku yang menolak. Aku menyadari bahwa melarikan diri hanya akan menunda kedewasaan yang seharusnya sudah kupeluk erat. Aku memilih untuk tinggal, bekerja serabutan di dua tempat sekaligus, dan secara perlahan melunasi setiap rupiah kerugian yang disebabkan oleh kecerobohanku.
Proses itu adalah penempaan yang menyakitkan. Aku yang dulunya hanya memikirkan seni dan idealisme, kini harus berhadapan dengan angka, utang, dan negosiasi yang keras. Dalam kesederhanaan hidup yang baru, aku bertemu dengan banyak orang yang menghadapi kesulitan jauh lebih besar, namun tetap tegak berdiri.
Di sanalah aku mulai memahami bahwa kedewasaan sejati bukanlah tentang mencapai target besar, melainkan tentang kemampuan untuk bangkit kembali setelah jatuh, tanpa menyalahkan keadaan. Momen-momen pahit ini, dengan segala dramanya, adalah babak paling krusial dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis.
Aku belajar bahwa empati jauh lebih berharga daripada simpati. Ketika aku berhenti fokus pada rasa sakitku sendiri dan mulai mendengarkan kisah perjuangan orang lain, beban di pundakku terasa lebih ringan. Kegagalan bukan lagi aib, melainkan peta jalan yang menunjukkan di mana aku harus lebih berhati-hati dan lebih rendah hati.
Bekas luka dari Sangkar Mimpi kini menjadi pengingat abadi. Mereka mengajarkanku disiplin, ketelitian, dan yang terpenting, kerendahan hati untuk mengakui bahwa aku tidak tahu segalanya. Aku telah tumbuh dari seorang pemimpi yang naif menjadi seorang pejuang yang realistis.
Mungkin, kita harus merasakan kehancuran total terlebih dahulu agar bisa membangun fondasi diri yang benar-benar kokoh. Pertanyaannya sekarang, setelah semua badai berlalu, apakah aku siap untuk kembali memimpikan sesuatu yang besar, kali ini dengan kebijaksanaan yang telah kubayar mahal?


