Aku selalu membayangkan kedewasaan adalah gerbang yang akan kumasuki dengan langkah ringan, membawa ransel penuh rencana perjalanan dan gelar sarjana yang cemerlang. Namun, kenyataan memiliki skenario yang jauh lebih brutal dan mendesak. Sebuah panggilan telepon di tengah malam, mengabarkan bahwa fondasi keuangan keluarga kami mendadak runtuh, seketika menghapus semua peta masa depanku.

Dunia yang kukira stabil, ternyata hanyalah ilusi rapuh yang dipegang oleh janji-janji yang tak terpenuhi. Rasa panik mencekik; bagaimana mungkin aku, yang hanya tahu cara memilih kafe terbaik, kini harus memahami laporan laba rugi dan menanggung beban hutang? Aku memberontak, merasa dicuri dari masa muda yang seharusnya menjadi hakku.

Keputusan harus diambil dengan cepat, menyingkirkan ego dan mimpi-mimpi yang telah kurajut sejak lama. Dana kuliah yang sudah terkumpul kurela cairkan demi menutupi lubang paling mendesak, dan aku mengambil alih bisnis kecil Ayah yang nyaris bangkrut. Meja kerjaku yang tadinya dipenuhi buku-buku sastra kini berganti tumpukan faktur dan surat tagihan yang mengintimidasi.

Setiap pagi adalah pertempuran melawan ketidakmampuan diri sendiri. Aku belajar bernegosiasi dengan nada suara yang mantap, meskipun hatiku bergetar ketakutan; aku belajar memimpin, meskipun aku sendiri merasa tersesat. Ada malam-malam di mana aku menangis di balik meja, merindukan kemudahan hidup yang dulu kucibir karena terlalu membosankan.

Perlahan, melalui setiap kegagalan kecil dan kemenangan tipis, aku mulai melihat sesuatu yang baru dalam diriku. Ketakutan itu tidak hilang, tetapi ia berubah menjadi bahan bakar. Aku menemukan kekuatan untuk bertahan yang tidak pernah ku duga ada di dalam diriku, sebuah ketahanan yang terbentuk dari lelehan keputusasaan.

Inilah yang disebut orang sebagai proses pendewasaan, sebuah babak tak terduga dalam Novel kehidupan yang harus kutulis sendiri, tanpa editor dan tanpa revisi. Jalan cerita yang disajikan alam semesta jauh lebih kompleks dan mendalam daripada fiksi yang pernah kubaca.

Aku mulai menghargai setiap centang kecil di daftar tugasku. Keberhasilan menstabilkan satu pemasok, atau bahkan sekadar menyelesaikan pembukuan tanpa kesalahan, terasa seperti meraih penghargaan tertinggi. Aku tidak lagi mencari kebahagiaan dalam kemewahan, melainkan dalam ketenangan yang muncul setelah badai berhasil kulewati.

Melihat ke belakang, aku menyadari bahwa Risa yang dulu adalah sosok yang dangkal, hanya mengenal teori hidup tanpa pernah mencicipi pahitnya praktik. Kesulitan itu telah menjadi guru paling keras, tetapi juga paling jujur, menelanjangi kepura-puraan dan memaksa aku untuk tumbuh.

Kedewasaan bukanlah tentang usia yang bertambah, melainkan tentang seberapa besar tanggung jawab yang mampu kau pikul tanpa patah. Aku mungkin kehilangan masa muda yang riang, tetapi aku mendapatkan jiwa yang utuh, kuat, dan siap menghadapi apa pun yang dilemparkan takdir selanjutnya. Pertanyaannya kini, setelah aku berhasil membangun kembali fondasi ini, apakah aku memiliki keberanian untuk mulai merajut mimpi yang baru?