JAKARTA – Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah terus memperkuat langkah pemulihan pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Fokus utama diarahkan pada percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap), serta distribusi bantuan logistik yang kini berlangsung secara masif.

Menjelang Ramadan dan Lebaran 2026, pemerintah menargetkan seluruh warga terdampak dapat kembali hidup dalam kondisi yang layak. Kementerian Sosial mencatat bahwa hingga akhir Desember 2025, bantuan tanggap darurat yang telah disalurkan mencapai lebih dari Rp100,48 miliar. Bantuan tersebut mencakup bahan pangan, lauk pauk, perlengkapan keluarga, kebutuhan anak-anak, serta dukungan operasional untuk 42 dapur umum di lokasi bencana.

Aceh menjadi provinsi dengan jumlah bantuan logistik terbesar, yakni 1.788 ton senilai Rp43,6 miliar. Sumatera Utara menyusul dengan Rp37,45 miliar, dan Sumatera Barat menerima Rp19,41 miliar. Selain dari pemerintah pusat, bantuan juga datang dari berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah, yang turut memperkuat upaya pemulihan di lapangan.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengalokasikan anggaran pemulihan sebesar Rp430 miliar untuk lima sektor prioritas. Sekitar Rp275 miliar dari jumlah tersebut difokuskan pada perbaikan infrastruktur seperti jalan, jembatan, tanggul, normalisasi sungai, dan rehabilitasi rumah warga. Sektor lain seperti komunikasi, pendidikan, kesehatan, dan bantuan ke daerah juga menjadi perhatian.

Pembangunan huntara dan huntap kini dikebut agar warga tidak lagi tinggal di pengungsian saat Ramadan. Di Sumatera Utara, huntara direncanakan di Tapanuli Utara (40 unit), Tapanuli Tengah (209 unit), dan Tapanuli Selatan (802 unit). Sementara itu, pembangunan huntap ditargetkan mencapai 5.951 unit, dengan progres awal sekitar 20 persen.

Tapanuli Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus. Meski dampaknya tidak sebesar daerah lain, percepatan pembangunan tetap dilakukan agar masyarakat segera menempati hunian yang layak. Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menegaskan bahwa koordinasi lintas instansi berjalan intensif demi mengejar target penyelesaian sebelum Lebaran.

Di Sumatera Barat, pemulihan infrastruktur menjadi kunci utama untuk memulihkan aktivitas ekonomi dan distribusi bantuan. Balai Wilayah Sungai Sumatra V menargetkan perbaikan akses jalan menuju Batu Busuak, Kota Padang, rampung dalam empat hari. Wilayah ini sempat terisolasi akibat banjir bandang pada 15 Desember 2025, menyusul bencana serupa di akhir November. Dari 34 sungai terdampak, 19 di antaranya telah memasuki tahap normalisasi.

Kini, akses jalan Koto Tuo–Batu Busuak kembali terbuka, memungkinkan distribusi bantuan berjalan lancar dan aktivitas warga kembali pulih.

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat terdampak. Dengan dukungan logistik yang melimpah, percepatan pembangunan hunian, dan rehabilitasi infrastruktur strategis, seluruh upaya diarahkan agar pemulihan berlangsung cepat dan berkelanjutan. Harapannya, masyarakat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dapat menyambut Ramadan dan Lebaran 2026 dalam kondisi yang lebih aman dan bermartabat.*