Hujan sore itu jatuh dengan ritme yang sama seperti saat aku memutuskan untuk pergi meninggalkan segalanya. Di balik jendela kaca yang berembun, aku melihat pantulan wajah yang tak lagi sama dengan masa lalu yang penuh ambisi buta.
Dahulu, aku mengira bahwa kedewasaan diukur dari seberapa banyak kemenangan yang berhasil kugenggam erat. Namun, kegagalan besar yang menghantamku justru menjadi guru yang paling jujur dalam menguliti ego yang selama ini kupelihara.
Kehilangan pekerjaan dan kepercayaan dari orang terdekat memaksaku untuk berhenti berlari dan mulai mendengarkan suara hati sendiri. Dalam kesunyian yang mencekam, aku belajar bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada teriakan, melainkan pada ketenangan saat badai menerjang.
Setiap luka yang tergores di batin ini seolah menjadi bab-bab penting dalam sebuah Novel kehidupan yang sedang kutulis dengan tinta air mata dan keringat. Aku menyadari bahwa tanpa konflik yang menguras emosi, alur ceritaku hanya akan menjadi lembaran kosong yang tak bermakna bagi siapa pun.
Aku mulai memaafkan diriku sendiri atas segala keputusan ceroboh yang pernah kuambil di masa muda yang berapi-api. Memaafkan ternyata jauh lebih sulit daripada membenci, namun di sanalah letak kunci untuk membuka pintu kedewasaan yang sesungguhnya.
Kini, aku tak lagi mengejar pengakuan dunia dengan cara yang melelahkan dan merusak kedamaian batinku. Aku lebih memilih untuk menanam kebaikan-kebaikan kecil yang mungkin tak terlihat, namun akarnya menghujam kuat ke dalam bumi kesabaran.
Perjalanan ini memang panjang dan sering kali sunyi, tetapi cahaya di ujung jalan itu kini terlihat lebih terang dan menenangkan. Kedewasaan bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan proses berkelanjutan untuk terus bertumbuh di tengah keretakan yang ada.
Di rumah tua ini, aku menemukan kembali kepingan diriku yang sempat hilang ditelan kesombongan masa lalu. Setiap sudut ruangan membisikkan pesan bahwa setiap manusia berhak untuk hancur sebelum akhirnya bangkit menjadi pribadi yang lebih utuh.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang menghindari badai, melainkan tentang bagaimana kita belajar menari dengan indah di bawah guyuran hujan yang deras. Apakah kau sudah siap untuk memeluk luka-lukamu dan menjadikannya sayap untuk terbang lebih tinggi?