Langkahku terhenti tepat di depan pintu kayu yang warnanya mulai memudar dimakan usia. Angin sore membawa aroma tanah basah, seolah ingin menyambut kepulanganku yang tak lagi sama seperti dulu.
Dahulu, aku melihat dunia hanya sebagai taman bermain tanpa batas yang penuh dengan tawa tanpa beban. Namun, retakan di dinding rumah ini mengingatkanku bahwa waktu tidak pernah menunggu siapa pun untuk siap menghadapi perubahan.
Kesalahan besar yang pernah kulakukan kini terasa seperti guru yang paling jujur namun terkadang sangat kejam. Ia merenggut kepolosanku, tetapi memberikan sepasang mata baru untuk melihat kenyataan yang sesungguhnya terjadi di depan mata.
Aku belajar bahwa menjadi dewasa bukan tentang berapa banyak angka yang telah kita lewati setiap kali matahari terbit dari ufuk timur. Kedewasaan adalah tentang bagaimana kita tetap berdiri tegak saat badai menghantam pondasi keyakinan kita yang paling dalam.
Setiap luka yang mengering di hati ini adalah bab-bab penting dalam sebuah novel kehidupan yang sedang kutulis dengan penuh kesabaran. Tanpa konflik yang menyesakkan dada, cerita ini mungkin akan terasa hambar dan tidak memiliki makna yang mendalam bagi pembacanya.
Kini, aku tidak lagi menyalahkan keadaan atau menunjuk jari pada takdir yang seringkali terasa tidak adil. Tanganku yang dulu hanya tahu cara meminta, sekarang mulai belajar untuk memberi dan mendekap erat setiap tanggung jawab yang datang.
Kesunyian di ruang tamu ini tidak lagi terasa menakutkan, melainkan menjadi ruang diskusi antara aku dan diriku yang lama. Kami berdamai di bawah temaram lampu gantung, melepaskan dendam yang selama ini membelenggu langkahku untuk maju.
Aku menyadari bahwa setiap tetes air mata yang jatuh telah menyirami benih ketabahan di dalam jiwa yang gersang. Kedewasaan ternyata adalah seni memaafkan diri sendiri sebelum meminta dunia melakukan hal yang sama kepada kita.
Malam mulai turun menyelimuti cakrawala, namun cahaya di dalam dadaku justru benderang lebih terang dari sebelumnya. Sebab pada akhirnya, dewasa adalah keberanian untuk terus berjalan meski kaki gemetar menapak jalan yang penuh dengan ketidakpastian.