Cahaya mentari pagi itu terasa berbeda, seolah menembus celah terdalam di hatiku yang selama ini tertutup rapat. Aku mulai menyadari bahwa setiap tarikan napas bukan sekadar rutinitas, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Dahulu, aku adalah pribadi yang selalu menyalahkan keadaan atas setiap kegagalan yang datang menghampiri. Dunia terasa begitu tidak adil hingga aku lupa bahwa setiap manusia memiliki porsinya masing-masing dalam berjuang.

Kehilangan yang menyakitkan itu datang tanpa permisi, merenggut segala kenyamanan yang selama ini aku banggakan. Di titik terendah itulah, aku dipaksa untuk berdiri di atas kaki sendiri tanpa sandaran dari siapapun.

Menangis memang manusiawi, namun terus meratap hanya akan membuat waktu terbuang dengan sia-sia. Aku mulai belajar memaafkan masa lalu dan merangkul ketidaksempurnaan sebagai bagian dari perjalanan yang indah.

Setiap lembar hari yang kulalui kini terasa seperti bab-bab dalam sebuah novel kehidupan yang penuh dengan plot tak terduga. Aku tidak lagi takut pada konflik, karena aku tahu di sanalah karakterku sedang ditempa menjadi lebih kuat.

Kedewasaan ternyata bukan tentang berapa banyak usia yang kita miliki, melainkan tentang bagaimana kita merespons rasa sakit. Aku memilih untuk tetap tenang saat badai datang, karena aku tahu pelangi akan selalu muncul setelahnya.

Kini, aku melihat cermin dan tidak lagi menemukan sosok rapuh yang penuh dengan amarah serta dendam. Sosok di depanku adalah pejuang yang telah berdamai dengan luka dan siap melangkah lebih jauh lagi.

Perjalanan ini memang belum berakhir, namun aku telah menemukan kompas yang akan menuntunku pulang ke arah kedamaian. Setiap luka kini telah berubah menjadi tanda jasa yang mengingatkanku bahwa aku pernah menang melawan diri sendiri.

Namun, sebuah pertanyaan besar tetap menggelayut di benakku: apakah aku benar-benar sudah dewasa, ataukah ini hanyalah awal dari ujian yang lebih besar? Hanya waktu yang akan menjawab, sementara aku terus melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi.