Langit sore itu berwarna jingga pekat, seolah ikut merasakan remuknya harapan yang baru saja hancur di tanganku. Aku berdiri terpaku di depan pintu yang tertutup rapat, menyadari bahwa kerja keras berbulan-bulan telah berakhir dengan kegagalan yang pahit.

Kegagalan ini bukan sekadar angka atau penolakan, melainkan cermin retak yang memaksaku melihat siapa diriku sebenarnya. Aku terbiasa menyalahkan keadaan tanpa pernah mau bercermin pada ego yang selama ini kupelihara dengan sangat rapi.

Dalam keheningan malam yang mencekam, aku mulai membolak-balik lembaran ingatan yang terasa seperti sebuah Novel kehidupan. Setiap babnya berisi ambisi buta yang sering kali mengabaikan ketulusan hati orang-orang yang selama ini berada di sekitarku.

Aku mulai menyadari bahwa menjadi dewasa bukanlah tentang memenangkan setiap pertempuran yang aku hadapi di dunia luar. Kedewasaan justru lahir saat aku mampu berdamai dengan kekalahan tanpa harus kehilangan harga diri atau semangat untuk bangkit kembali.

Hari-hari berikutnya kuhabiskan dengan belajar mendengarkan lebih banyak daripada berbicara dengan nada yang tinggi. Aku mulai memahami bahwa setiap orang membawa bebannya masing-masing, dan empati adalah kunci utama untuk membuka pintu kedamaian.

Luka yang dulu terasa sangat perih kini perlahan mengering, meninggalkan bekas yang selalu mengingatkanku akan kekuatan jiwa yang tersembunyi. Aku tak lagi mengejar pengakuan dunia, melainkan mencari ketenangan batin yang tidak bisa dibeli dengan materi apa pun.

Setiap air mata yang jatuh ternyata adalah pupuk bagi jiwa yang selama ini terasa gersang dan penuh dengan amarah. Aku belajar untuk memaafkan masa lalu dan merangkul ketidaksempurnaan sebagai bagian paling indah dari perjalanan panjang seorang manusia.

Pada akhirnya, kedewasaan bukanlah hadiah dari pertambahan usia, melainkan pilihan sadar untuk tetap berdiri tegak di tengah badai. Namun, apakah aku benar-benar sudah cukup kuat untuk menghadapi ujian yang jauh lebih besar di tikungan jalan berikutnya?