Langit sore itu tampak lebih kelam dari biasanya, seolah-olah ikut merasakan beratnya koper yang kutarik di atas aspal kasar. Aku melangkah meninggalkan rumah masa kecilku, membawa segenggam mimpi dan ribuan keraguan yang menyesakkan dada.
Kehidupan di kota besar ternyata tak semanis dongeng yang sering kudengar sebelum tidur. Setiap sudut jalanan yang asing menuntutku untuk berhenti menjadi anak kecil yang selalu mengandalkan pelukan hangat seorang ibu.
Aku belajar bahwa sepiring nasi bukan sekadar pengganjal lapar, melainkan hasil dari peluh yang menetes di bawah terik matahari. Kesendirian mengajariku cara berbicara dengan diri sendiri, memahami setiap luka yang perlahan membentuk pola pikir baru.
Ada kalanya aku ingin menyerah dan kembali ke zona nyaman yang hangat dan tanpa tekanan. Namun, setiap bab dalam novel kehidupan yang sedang kutulis ini menuntutku untuk terus membalik halaman, betapapun perihnya cerita tersebut.
Kegagalan demi kegagalan datang silih berganti, meruntuhkan ego yang selama ini kupelihara dengan sombong. Aku mulai menyadari bahwa kedewasaan bukan tentang angka usia, melainkan tentang bagaimana kita merespons rasa sakit dengan ketenangan.
Teman-teman datang dan pergi, menyisakan ruang hampa yang justru membuatku semakin mengenal siapa diriku sebenarnya. Aku berhenti menyalahkan keadaan dan mulai mengambil tanggung jawab penuh atas setiap keputusan yang kupilih dengan sadar.
Keheningan malam kini menjadi sahabat terbaik untuk merenungi segala kekhilafan yang pernah kulakukan di masa lalu. Aku tidak lagi membenci kesalahan, karena dari sanalah aku belajar cara berdiri tegak di tengah badai yang menderu kencang.
Senyumku kini terasa lebih tulus, bukan karena hidup sudah sempurna, tapi karena aku telah berdamai dengan segala ketidaksempurnaan. Setiap luka kini menjadi medali keberanian yang kupakai dengan bangga di balik kemeja kerjaku yang mulai kusam.
Ternyata, menjadi dewasa adalah perjalanan tanpa akhir untuk terus menemukan potongan puzzle yang hilang dalam jiwa. Pertanyaannya, apakah aku sudah benar-benar sampai di tujuan, atau ini barulah awal dari ujian yang sesungguhnya?