Dulu aku mengira dunia hanyalah taman bermain yang selalu menyediakan tawa tanpa henti. Setiap langkah kuayunkan dengan kesombongan seorang pemuda yang merasa waktu adalah miliknya selamanya.
Namun, langit yang biru itu tiba-tiba runtuh saat kegagalan terbesar menghantam tepat di jantung impianku. Semua rencana yang kususun rapi hancur berkeping-keping, menyisakan sunyi yang memekakkan telinga di tengah keramaian.
Aku sempat terpuruk dalam ruang gelap, menyalahkan takdir yang kurasa terlalu kejam untuk kupikul sendiri. Air mata menjadi kawan setia di setiap malam yang terasa jauh lebih panjang dari biasanya.
Perlahan, aku mulai menyadari bahwa setiap goresan luka adalah tinta yang sedang menuliskan bab baru. Aku sedang menyusun sebuah Novel kehidupan yang tidak hanya berisi tentang keberhasilan, tetapi juga tentang cara bangkit dari kehancuran.
Kedewasaan ternyata bukan datang dari bertambahnya angka usia yang tertera di kartu identitas. Ia lahir dari keberanian untuk mengakui kelemahan dan kemauan untuk memaafkan diri sendiri atas segala kesalahan masa lalu.
Aku belajar mendengarkan detak jantung yang lebih tenang, meski badai di luar sana belum sepenuhnya mereda. Ada kekuatan baru yang tumbuh dari sisa-sisa reruntuhan ego yang dulu sempat menjulang tinggi.
Kini, aku memandang cermin dan tidak lagi melihat sosok yang penuh amarah atau penyesalan mendalam. Aku melihat seorang pejuang yang telah berdamai dengan kenyataan pahit yang pernah singgah dalam perjalanan ini.
Perjalanan ini masih sangat panjang, namun kakiku kini berpijak lebih kuat di atas tanah yang penuh duri sekalipun. Setiap langkah kecil adalah kemenangan atas ketakutan yang dulu sempat menguasai seluruh ruang dalam pikiranku.
Pada akhirnya, kedewasaan adalah tentang bagaimana kita tetap memilih untuk bersinar meski malam terasa begitu pekat. Namun, apakah cahaya ini akan cukup kuat untuk menerangi jalan berliku yang masih menanti di depan sana?