Aku selalu berpikir kedewasaan adalah gerbang yang akan kumasuki perlahan, setelah wisuda, setelah memiliki pekerjaan mapan, atau setelah menemukan cinta sejati. Hidupku saat itu hanyalah serangkaian warna cerah, diwarnai tawa di kampus dan kopi hangat di sore hari. Aku naif, terlalu percaya bahwa jaring pengaman keluarga akan selalu ada.
Namun, semesta punya cara brutal untuk menggeser pilar-pilar kenyamanan. Tepat di malam pergantian musim, Ayah pergi tanpa jejak, meninggalkan tumpukan surat utang dan keheningan yang memekakkan. Seketika, aku, yang baru menginjak usia dua puluhan, harus mengorbankan bangku kuliah dan menjadi kepala keluarga dadakan bagi Maya, adik perempuanku.
Beban itu terasa seperti batu granit yang tiba-tiba diletakkan di pundakku, membuat setiap langkah terasa berat dan menyakitkan. Aku harus belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan, mengemis penundaan pembayaran pada rentenir yang matanya setajam belati, dan menelan harga diri demi pekerjaan serabutan yang bahkan tak bisa menutupi sewa kontrakan.
Sering kali, saat malam tiba dan Maya sudah terlelap, aku duduk di ambang jendela, menatap rembulan yang terasa begitu jauh. Ada dorongan kuat untuk melarikan diri, kembali menjadi Rian yang dulu, yang hanya peduli pada nilai ujian dan jadwal pertandingan sepak bola. Tetapi, setiap kali aku melihat wajah polos Maya, keinginan itu luntur menjadi rasa tanggung jawab yang menghangatkan.
Masa-masa itu mengajarkanku bahwa kedewasaan bukanlah soal usia yang tertera di kartu identitas, melainkan tentang seberapa gigih kita berdiri saat badai menghantam. Tangan yang dulu hanya terbiasa memegang pena kini kasar karena mencuci piring di restoran, dan otak yang dulu dipenuhi teori kini sibuk menghitung sisa uang untuk makan esok hari.
Inilah skenario paling jujur dari apa yang disebut orang sebagai Novel kehidupan, sebuah kisah yang tidak menjanjikan akhir bahagia, tetapi menuntut ketahanan. Aku mulai menyadari bahwa setiap air mata yang jatuh, setiap penolakan yang kuterima, adalah babak baru yang sedang membentuk karakterku.
Aku menemukan kekuatan yang tak pernah kusangka ada di dalam diriku; kemampuan untuk tersenyum meyakinkan di depan Maya meski perutku keroncongan, dan keberanian untuk memulai dari nol lagi setelah kegagalan demi kegagalan. Luka yang menganga itu perlahan-lahan menjadi baja, menempa diriku menjadi pribadi yang jauh lebih kuat dan lebih peka terhadap penderitaan orang lain.
Kedewasaan yang kupelajari dari pengalaman pahit ini adalah seni menerima kekurangan dan mengubahnya menjadi bahan bakar. Aku tidak lagi mencari kebahagiaan yang sempurna, tetapi menghargai ketenangan yang kudapatkan setelah melewati badai.
Meskipun jalan di depan masih panjang dan penuh ketidakpastian, aku tahu bahwa Rian yang sekarang tidak akan mudah tumbang. Pertanyaannya, setelah semua pengorbanan ini, apakah aku akan sanggup memaafkan Ayah jika suatu hari nanti ia kembali, dan bagaimana aku akan menjelaskan pada Maya bahwa jaring pengaman kita harus kita rajut sendiri?