Aku selalu membayangkan kedewasaan adalah gerbang yang dilewati perlahan, seiring bertambahnya usia, ditandai dengan pesta perpisahan masa remaja yang meriah. Realitas, bagaimanapun, adalah penulis skenario yang jauh lebih kejam dan jujur. Bagiku, kedewasaan datang seperti badai di tengah musim kemarau, merenggut semua yang kurasa stabil dan memaksaku berdiri tegak di atas puing-puing.
Semua bermula saat Ayah jatuh sakit, bukan sakit biasa, melainkan kondisi yang menuntut perhatian penuh dan biaya yang tak sedikit. Tiba-tiba, buku-buku kuliahku terasa ringan dibandingkan tumpukan tagihan yang harus kucari solusinya. Aku yang biasanya hanya fokus pada nilai dan mimpi-mimpi artistik, kini harus berhadapan dengan angka-angka di laporan keuangan usaha kecil keluarga.
Ada masa-masa aku merasa sangat marah, mempertanyakan mengapa takdir memilihku, seorang gadis yang belum selesai membaca babak remajanya. Malam-malam kulalui dengan air mata yang membasahi sketsa-sketsa impianku, merasa terperangkap dalam peran yang terlalu besar untuk bahu yang masih muda ini. Rasanya seperti dipaksa berlari maraton tanpa pernah sempat belajar berjalan dengan benar.
Namun, di tengah kelelahan itu, sebuah transformasi perlahan terjadi. Aku mulai belajar memprioritaskan, bukan hanya antara tugas dan waktu luang, tetapi antara kebutuhan mendesak dan keinginan pribadi. Aku menunda beasiswa impianku ke luar negeri—sebuah keputusan yang menghancurkan hatiku—demi memastikan dapur keluarga tetap mengepul dan pengobatan Ayah berjalan lancar.
Saat itulah aku menyadari bahwa kedewasaan bukan tentang seberapa banyak usia yang tertera di kartu identitas, melainkan seberapa besar kapasitas kita untuk berkorban tanpa mengharapkan imbalan. Itu adalah titik balik di mana aku berhenti menyalahkan keadaan dan mulai mencari solusi, menerima bahwa aku harus menjadi jangkar bagi badai yang menerpa keluargaku.
Semua pengalaman pahit ini, kegagalan saat mencoba mengurus bisnis, kesalahpahaman dengan kerabat, dan kesendirian dalam mengambil keputusan sulit, telah menjadi halaman-halaman penting. Inilah yang orang sebut sebagai Novel kehidupan, babak yang tidak bisa diulang, penuh intrik, namun membentuk karakterku menjadi lebih kuat dan tangguh.
Risa yang dulu hanya melihat dunia dalam warna pastel, kini memahami spektrum abu-abu yang rumit. Aku belajar bahwa empati adalah mata uang yang lebih berharga daripada uang tunai, dan bahwa keberanian sejati adalah bangun setiap pagi meskipun kita tahu hari itu akan terasa sangat berat.
Meskipun badai belum sepenuhnya berlalu, aku kini berdiri di tepi jurang itu dengan pandangan yang berbeda. Aku tidak lagi takut pada kegelapan, sebab aku tahu, cahaya yang paling terang sering kali lahir dari bara api yang paling menyakitkan. Pertanyaannya, apakah setelah semua ini, aku masih memiliki ruang untuk impian masa mudaku?