Aku selalu percaya bahwa kedewasaan adalah capaian, sebuah medali emas yang tergantung di leher setelah berhasil menaklukkan puncak karier di gedung pencakar langit. Duniaku saat itu adalah kebisingan telepon, pertemuan penting, dan janji-janji masa depan yang berkilauan. Aku merasa tak terhentikan, hingga sebuah panggilan telepon dari kampung halaman meruntuhkan seluruh fondasi kebanggaanku.

Panggilan itu membawa kabar buruk: toko buku warisan kakek, satu-satunya peninggalan yang tersisa dari masa kecilku, berada di ambang kebangkrutan total. Angka-angka merah itu menuntut pengorbanan yang tak pernah kubayangkan: Aku harus meninggalkan jabatan impianku, meninggalkan kota yang telah menjadi saksi ambisiku, dan kembali ke tempat yang selama ini kusebut masa lalu.

Keputusan untuk pulang terasa seperti pengkhianatan terhadap diri sendiri, sebuah langkah mundur yang memalukan. Rasa pahit dan amarah menjalar setiap kali aku melihat papan nama toko yang kusam dan berdebu. Aku merasa seperti burung yang sayapnya dipotong, dipaksa berjalan di tanah yang becek setelah terbiasa terbang tinggi di awan.

Hari-hari pertamaku dipenuhi dengan rasa putus asa. Toko itu sepi, hanya diisi aroma kertas tua dan kesunyian yang menusuk. Aku harus belajar mengurus pembukuan yang rumit, menghadapi tagihan yang menumpuk, dan berinteraksi dengan segelintir pelanggan yang tak lagi seramai dulu. Ini jauh lebih sulit daripada memimpin tim besar di kantor ber-AC.

Namun, di tengah tumpukan buku-buku yang nyaris lapuk, aku mulai membaca ulang lembaran hidupku sendiri. Aku sadar, selama ini aku hanya mengejar definisi sukses orang lain, bukan kebahagiaan sejati. Proses merawat warisan yang nyaris mati ini, memaksaku menghadapi kelemahan dan ketakutan terdalamku.

Aku menyadari bahwa inilah esensi dari sebuah Novel kehidupan yang sesungguhnya; bukan tentang bagaimana kita menulis bab-bab yang sempurna, melainkan bagaimana kita bangkit setelah bab-bab itu terbakar habis. Aku mulai menemukan ketenangan dalam kesederhanaan, dan kekuatan dalam tanggung jawab yang awalnya terasa membebani.

Setiap malam, setelah membersihkan debu dari rak-rak, aku melihat pantulan diriku yang baru di jendela toko. Mata itu mungkin sedikit lebih lelah, namun sorotnya jauh lebih tajam dan damai. Kedewasaan ternyata bukan tentang apa yang kita raih, melainkan tentang apa yang mampu kita pertahankan dan perbaiki ketika badai datang.

Aku belajar bahwa menjadi dewasa adalah kemampuan untuk berdiri tegak di atas puing-puing mimpimu yang patah, dan membangunnya kembali—bukan dengan kemewahan, melainkan dengan fondasi ketulusan dan tanggung jawab yang jauh lebih kokoh. Lalu, bagaimana jika puing-puing itu ternyata adalah bahan baku terbaik untuk menciptakan sayap yang baru?