Dunia di mata saya dulunya adalah kanvas yang sempurna, dilukis dengan warna-warna pasti dan garis yang lurus. Saya hidup dalam keyakinan naif bahwa setiap usaha akan selalu berbuah manis, dan bahwa kegagalan hanyalah mitos bagi mereka yang kurang gigih. Keyakinan itu adalah tembok kaca yang melindungi saya dari realitas yang lebih keras.
Namun, tembok itu runtuh tiba-tiba, bukan karena badai besar, melainkan karena getaran kecil yang tak terduga. Kehilangan mendadak yang menimpa keluarga memaksa saya meninggalkan semua rencana yang telah tersusun rapi, termasuk impian studi yang telah lama saya genggam erat. Rasa malu dan kekecewaan membalut diri, membuat saya merasa telanjang di hadapan dunia yang seolah menertawakan kejatuhan saya.
Saya memutuskan untuk melarikan diri, mencari perlindungan di kota kecil yang jauh dari sorotan dan penghakiman. Di sana, saya harus mengambil pekerjaan kasar yang jauh dari bayangan masa depan yang saya impikan—pekerjaan yang menuntut keringat dan kekuatan fisik, bukan kecerdasan akademis.
Awalnya, saya merasa terhina. Saya menganggap pekerjaan ini sebagai hukuman, sebuah jeda pahit sebelum saya kembali ke jalur ‘seharusnya’. Saya memandang rendah rekan-rekan kerja yang terlihat puas dengan hidup sederhana mereka, tanpa menyadari bahwa merekalah guru-guru terbaik saya.
Mereka mengajarkan saya arti sejati dari perjuangan, bukan perjuangan untuk mencapai puncak, tetapi perjuangan untuk bertahan hidup dengan martabat. Saya melihat ketulusan di mata seorang ibu yang bekerja lembur demi pendidikan anaknya, dan keteguhan hati seorang pria tua yang tetap tersenyum meski punggungnya terasa remuk.
Perlahan, saya mulai memahami bahwa cerita hidup tidak selalu harus heroik dan gemilang, melainkan seringkali gelap dan penuh kontradiksi. Saya menyadari bahwa perjalanan yang saya jalani ini adalah babak paling jujur dan esensial dari Novel kehidupan saya; sebuah babak yang tidak akan pernah saya baca di buku-buku motivasi.
Kedewasaan datang bukan saat saya meraih kesuksesan, melainkan saat saya belajar menerima kegagalan sebagai bagian integral dari identitas saya. Saya berhenti menyalahkan keadaan dan mulai fokus pada apa yang bisa saya bangun dari puing-puing yang tersisa.
Saya belajar bahwa luka tidak perlu disembunyikan; ia adalah peta yang menunjukkan seberapa jauh saya telah berjalan. Kerentanan yang dulu saya takuti kini menjadi kekuatan, karena ia memungkinkan saya untuk berempati dan terhubung dengan sesama manusia secara lebih mendalam.
Ketika saya akhirnya kembali ke kota lama, saya membawa diri yang berbeda—diri yang lebih tenang, lebih kuat, dan tidak lagi terikat pada definisi sukses yang dangkal. Saya tidak tahu pasti apa babak selanjutnya, tetapi saya tahu satu hal: kedewasaan adalah kemampuan untuk berdiri tegak di tengah ketidakpastian, dan menyadari bahwa kita akan selalu baik-baik saja, bahkan ketika segalanya terasa hancur.