Dahulu, duniaku adalah panggung yang gemerlap, dipenuhi janji-janji artistik dan tepuk tangan yang memabukkan. Aku yakin, kebahagiaan sejati hanya bisa ditemukan di tengah hiruk pikuk kota besar, jauh dari debu dan kesederhanaan kampung halaman yang selalu aku hindari. Aku mengejar idealisme, menganggap segala sesuatu yang berbau materi sebagai belenggu yang mematikan jiwa.
Namun, telepon larut malam itu merobek tirai ilusi dengan kejam. Suara Ayah yang terdengar lelah, mengabarkan bahwa pabrik kerajinan yang dibangunnya sejak muda kini di ambang kehancuran, dan ia sendiri terlalu sakit untuk menopangnya. Seketika, kanvas impianku berubah menjadi laporan keuangan yang kusut dan tumpukan hutang yang menakutkan.
Kepulangan itu terasa seperti hukuman buangan. Aku, yang terbiasa membahas filsafat seni, kini harus bergumul dengan harga bahan baku, upah buruh, dan mesin-mesin tua yang berderak. Pabrik itu berbau kayu lapuk dan keringat, jauh dari wangi parfum panggung yang selama ini aku puja.
Awalnya, aku memberontak. Aku merasa waktu mudaku dirampas, digantikan oleh beban yang seharusnya bukan milikku. Setiap pagi, aku berdiri di tengah gudang yang sunyi, bertanya kepada semesta, mengapa aku harus mengorbankan segalanya demi sesuatu yang bahkan tidak pernah aku cintai.
Titik baliknya datang ketika aku melihat sepasang mata seorang buruh tua, yang telah bekerja di sana selama puluhan tahun, menatapku penuh harap. Bukan hanya pabrik ini yang akan mati, tapi juga puluhan keluarga yang menggantungkan nasib mereka pada sisa-sisa kejayaan masa lalu. Kesadaran itu menghantamku; ini bukan lagi tentang impianku, ini tentang tanggung jawab yang jauh lebih besar dari sekadar ego.
Aku mulai belajar. Belajar bahwa kedewasaan bukan diukur dari seberapa bebas kita mengejar keinginan, melainkan seberapa kuat kita menanggung konsekuensi dari pilihan yang sulit. Aku mulai merangkul angka-angka dan strategi pemasaran, menemukan keindahan yang berbeda dalam efisiensi dan stabilitas.
Semua kegagalan, kesalahpahaman dengan para pemasok, hingga sukses kecil yang kuraih, adalah babak penting yang harus aku tulis. Inilah yang disebut orang sebagai Novel kehidupan, sebuah kisah yang tidak selalu romantis, tetapi penuh makna dan pembelajaran yang mendalam.
Luka-luka yang timbul karena terpaksa melepaskan ambisi masa muda ternyata adalah pupuk terbaik bagi kebijaksanaan. Aku belajar bahwa idealisme tanpa realisme hanyalah khayalan, dan bahwa cinta sejati terkadang diwujudkan melalui pengorbanan yang sunyi, bukan sorakan yang riuh.
Kini, pabrik itu berdiri tegak, tidak lagi megah, namun stabil. Aku masih merindukan panggung, tetapi rasa puas melihat roda perekonomian kecil ini berputar memberiku kedamaian yang tak pernah kutemukan di bawah lampu sorot. Aku tahu, perjalanan ini baru dimulai, dan pertanyaan terbesarnya adalah: setelah semua ini usai, apakah aku akan kembali mengejar cahaya, atau aku akan menemukan cahaya baru di tempat yang selama ini aku anggap gelap?