Aku selalu membayangkan diriku berada di kota-kota yang jauh, memegang kuas dan kanvas, melukis pemandangan yang tak pernah dilihat orang. Hidupku saat itu hanyalah serangkaian rencana pelarian, hingga sebuah surat dari notaris tiba di meja dapur, merobek peta impianku menjadi serpihan kecil. Surat itu adalah pengingat pahit bahwa warisan keluarga, toko reparasi buku antik ‘Pustaka Senja’, kini sepenuhnya ada di pundakku.

Ayah sudah lama pergi, dan Ibu kini terbaring lemah, meninggalkan tumpukan utang yang diam-diam menggerogoti fondasi toko tua itu. Aku, yang hanya tahu cara membedakan warna cat air, kini harus belajar membedakan kertas perkamen dari kulit kambing, dan yang lebih menakutkan, memahami laporan keuangan yang kusut masai. Setiap hari di Pustaka Senja terasa seperti hukuman, bukan warisan.

Awalnya, aku membenci aroma debu dan lem yang menguar dari setiap sudut toko. Aku membenci para pelanggan setia yang menuntut kualitas restorasi sempurna, seolah aku memiliki keahlian yang diwariskan turun-temurun. Aku sering menangis di belakang meja kasir yang reyot, merasa bahwa hidupku telah dicuri oleh tanggung jawab yang tidak pernah kuinginkan.

Ada satu sore, ketika aku hampir menyerah dan berniat menjual semua aset Pustaka Senja, tanganku menyentuh sebuah buku harian tua milik Kakek. Di dalamnya, Kakek tidak hanya menuliskan resep lem terbaik, tetapi juga filosofi bahwa setiap buku yang diperbaiki adalah upaya menyelamatkan sebuah ingatan. Buku ini bukan sekadar bisnis; ini adalah jantung komunitas yang berdenyut pelan.

Membaca tulisan tangan Kakek adalah titik balik yang menyakitkan namun mencerahkan. Aku mulai melihat toko ini bukan sebagai penjara, melainkan sebagai medan perang pribadiku. Aku harus berjuang, bukan demi keuntungan besar, tetapi demi menjaga warisan makna yang telah dipertaruhkan oleh generasi sebelumku.

Perlahan, aku mulai belajar. Aku belajar menawar harga dengan pemasok yang keras kepala, aku belajar teknik menjahit punggung buku yang robek, dan yang terpenting, aku belajar tersenyum tulus kepada pelanggan yang mengeluh. Proses ini adalah cetak biru yang membentuk karakter, sebuah kurikulum tak tertulis yang jauh lebih berharga daripada gelar sarjana mana pun.

Aku menyadari, semua kesulitan, semua air mata, dan semua malam tanpa tidur ini adalah bab-bab yang membentuk diriku yang baru. Inilah esensi dari apa yang orang sebut sebagai Novel kehidupan, di mana alur cerita tidak selalu menyenangkan, tetapi setiap konflik menghasilkan pertumbuhan. Aku tidak lagi hanya bermimpi; aku hidup dan membangun.

Maturitas bukanlah usia, melainkan akumulasi dari badai yang berhasil kita lalui tanpa karam. Pustaka Senja mengajarkanku bahwa kedewasaan adalah kemampuan untuk menemukan keindahan dan kekuatan di tengah tumpukan tanggung jawab yang terasa berat.

Aku masih memimpikan kanvas dan cat air, tetapi sekarang aku tahu, seniku yang sesungguhnya adalah mengikat kembali halaman-halaman hidupku yang sempat terlepas. Kini, Pustaka Senja tidak hanya berdiri kokoh; ia menjadi mercusuar yang menunjukkan bahwa kehilangan dan perjuangan adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi manusia yang utuh.