Aku selalu membayangkan hidupku di atas panggung, di bawah sorotan lampu, bukan di antara rimbun pohon kopi yang diselimuti kabut dingin. Dulu, ambisiku hanya sebatas merangkai melodi; kini, ambisiku adalah memastikan akar-akar warisan keluarga ini tetap kokoh menancap di tanah. Perubahan mendadak itu datang tanpa permisi, merenggut masa mudaku dan menggantinya dengan tanggung jawab yang terasa begitu berat.

Saat Ayah terbaring lemah dan kebun kopi di lereng pegunungan ini terancam disita, aku dihadapkan pada pilihan paling sulit: lari mengikuti impian atau tinggal memikul beban. Aku memilih yang kedua, meski hatiku memberontak karena merasa dikhianati oleh takdir. Meninggalkan kota, meninggalkan gemerlap janji, dan kembali ke aroma tanah basah adalah langkah pertama menuju kedewasaan yang menyakitkan.

Bulan-bulan awal adalah neraka yang penuh dengan lecet, gigitan serangga, dan rasa malu karena ketidakmampuan. Aku yang hanya tahu not balok kini harus membedakan biji yang matang sempurna dari yang masih mentah. Kegagalan panen pertama hampir membuatku menyerah; aku duduk di teras gubuk tua, menangisi masa depan yang kelihatannya semakin jauh.

Aku ingat betul perkataan Pak Tua Rahmat, salah satu buruh tani yang sudah bekerja sejak zaman kakek: “Nak, kopi yang baik tidak bisa dipetik tergesa-gesa, sama seperti kesabaran.” Kata-kata itu menamparku. Aku menyadari, kedewasaan bukanlah tentang usia yang bertambah, melainkan tentang kemampuan menunda kepuasan dan menerima proses yang lambat.

Aku mulai membaca buku-buku tentang agrikultur, belajar tentang cuaca, dan memahami siklus alam. Perlahan, aku melihat kebun ini bukan lagi sebagai penjara, melainkan sebagai sebuah kanvas. Aku menyadari bahwa setiap kesulitan, setiap hama yang menyerang, setiap kemarau panjang, adalah plot twist yang membentuk alur utama.

Inilah inti dari Novel kehidupan yang sedang aku tulis—bahwa babak paling penting seringkali adalah babak yang paling sulit dibaca. Aku harus melalui rasa pahit itu untuk menemukan kedalaman rasa yang sesungguhnya. Aku belajar bahwa kekuatan sejati terletak pada ketenangan saat badai datang, dan bukan pada kecepatan lari saat menghindarinya.

Musim panen berikutnya, kami berhasil. Kopi yang dihasilkan memiliki karakter unik, dicintai oleh para penikmat. Saat aku mencicipi secangkir kopi hasil racikanku sendiri, aku tidak lagi merasakan pahitnya pengorbanan, melainkan manisnya pencapaian yang diraih dengan peluh dan air mata. Aku telah menemukan ritme baru, ritme yang jauh lebih berarti dari dentingan gitar.

Aku memang tidak menjadi musisi terkenal seperti yang kuimpikan, tetapi aku menjadi seorang petani yang bertanggung jawab, seorang pemimpin bagi orang-orangku, dan yang terpenting, aku menjadi dewasa. Kedewasaan itu bukan datang dari keberhasilan besar, melainkan dari keberanian untuk tetap berdiri tegak setelah berkali-kali terjatuh.

Kini, setiap pagi saat kabut perlahan menyingkapkan hijaunya daun kopi, aku tersenyum. Aku tahu, perjalanan ini masih panjang, dan akan ada badai baru yang datang. Namun, aku sudah siap. Sebab, jika aku bisa mengubah lumpur menjadi emas hitam, pelajaran apa lagi yang akan disajikan oleh semesta?