Aku selalu berpikir kedewasaan adalah garis finish yang dicapai setelah usia dua puluh lima, sebuah pencapaian yang otomatis datang bersama gaji tetap dan kebebasan finansial. Sebelum badai itu datang, hidupku hanyalah serangkaian kenyamanan yang diatur, sebuah gelembung yang melindungiku dari kerasnya realitas di luar sana. Aku adalah Arka, pemuda yang merasa tahu segalanya, padahal aku tak tahu apa-apa.
Semua berubah saat bisnis kerajinan kayu milik Ayah, yang selama ini menjadi sandaran hidup kami, tiba-tiba limbung dihantam krisis pasar yang tak terduga. Ayah jatuh sakit, bukan hanya karena fisik, tetapi karena beban pikiran yang luar biasa, meninggalkan aku—si anak sulung yang paling tidak siap—untuk mengambil alih kemudi kapal yang hampir tenggelam. Tumpukan tagihan dan wajah-wajah karyawan yang menggantungkan nasib padaku adalah cermin pertama yang menunjukkan betapa rapuhnya duniaku.
Malam-malamku yang biasanya diisi dengan obrolan ringan kini berganti dengan hitungan neraca yang minus dan bau debu kayu di bengkel tua. Aku harus belajar membedakan jenis kayu, bernegosiasi dengan pemasok yang sinis, dan menghadapi penolakan demi penolakan dari klien. Rasanya seperti didorong ke tengah lautan tanpa bekal, dipaksa berenang hanya dengan mengandalkan naluri yang baru tumbuh.
Ada hari-hari ketika aku ingin menyerah, kembali ke kamar tidurku yang nyaman dan berpura-pura semua ini hanyalah mimpi buruk. Aku harus menelan harga diri, memohon perpanjangan waktu pembayaran, dan bahkan menjual beberapa barang pribadi yang berharga. Kedewasaan ternyata bukan tentang apa yang kita miliki, melainkan seberapa besar kemampuan kita untuk melepaskan dan menerima kenyataan pahit.
Perlahan, aku mulai melihat dunia dari sudut pandang Ayah; aku memahami mengapa kerutan di dahinya semakin dalam setiap kali telepon berdering. Tanggung jawab yang kupikul bukan lagi beban, melainkan sebuah kehormatan. Aku menyadari bahwa cinta sejati bukan hanya ucapan, melainkan tindakan nyata untuk menjaga warisan dan martabat keluarga tetap berdiri tegak.
Setiap kegagalan kecil menjadi guru yang kejam namun jujur, mengikis sisa-sisa keangkuhan remajaku. Aku belajar bahwa inovasi adalah kunci, dan mulai merancang produk-produk baru yang lebih sesuai dengan selera pasar, sedikit demi sedikit menarik bengkel itu dari jurang kebangkrutan. Proses ini terasa panjang, berliku, dan penuh kejutan, persis seperti alur cerita dalam sebuah Novel kehidupan yang tak pernah bisa kita tebak babak selanjutnya.
Aku menemukan kekuatan yang tak pernah kukira ada di dalam diriku, sebuah ketangguhan yang hanya bisa ditempa oleh api kesulitan. Kedewasaan bukanlah hadiah yang diberikan waktu, melainkan hasil dari setiap pilihan sulit yang kita ambil saat semua orang berharap kita lari.
Kini, bengkel kami mulai stabil, dan Ayah sudah bisa tersenyum lagi, meski ia masih terbaring lemah. Aku mungkin kehilangan masa mudaku yang riang, tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: fondasi diri yang kokoh. Namun, di balik keberhasilan ini, aku tahu badai baru pasti akan datang. Pertanyaannya bukan lagi apakah aku siap menghadapinya, melainkan seberapa jauh aku bisa membawa kapal ini berlayar sebelum ombak berikutnya menerpa.