Aku selalu mengira kedewasaan adalah garis finis yang dicapai setelah wisuda atau mendapatkan pekerjaan mapan. Kenyataannya, bagiku, kedewasaan datang dalam bentuk amplop cokelat berisi surat penolakan dan tanggung jawab yang tiba-tiba jatuh di pundak. Saat itu, dunia yang kukenal, yang selalu terasa kokoh, seolah retak menjadi serpihan kaca.
Aku ingat malam-malam panjang di mana bantal menjadi saksi bisu kelelahan dan rasa takutku. Rencana-rencana yang telah kurangkai bertahun-tahun seolah musnah dalam sekejap, digantikan oleh keharusan untuk menopang keluarga kecil yang kehilangan tiang utamanya. Rasanya seperti berlayar di tengah badai tanpa kompas.
Perlahan, aku mulai belajar. Bukan lagi tentang meraih impian yang idealis, melainkan tentang memastikan ada nasi di meja dan senyum di wajah adikku. Setiap kegagalan kecil terasa seperti pukulan, tetapi setiap keberhasilan kecil, sekadar mampu membayar tagihan tepat waktu, terasa seperti kemenangan besar.
Aku menyadari bahwa rasa sakit adalah guru terbaik, meskipun ia adalah guru yang sangat keras dan tidak mengenal kompromi. Ia memaksa diriku untuk melihat ke dalam, menemukan cadangan kekuatan yang tidak pernah kusangka ada di sana. Dinding pertahananku runtuh, tetapi fondasi diriku justru menguat.
Di tengah keheningan subuh, sambil menatap tumpukan berkas yang harus diselesaikan, aku memahami sebuah kebenaran universal. Semua yang terjadi—kehilangan, perjuangan, air mata—adalah babak krusial dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Aku bukan lagi pemeran figuran yang menunggu nasib, aku adalah penulis utama naskah ini.
Transisi itu sungguh menyakitkan, proses metamorfosis dari kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong. Namun, justru dari keterpurukan itulah aku menemukan mentor-mentor tak terduga dan tangan-tangan yang siap menolong tanpa diminta. Solidaritas kemanusiaan ternyata jauh lebih nyata daripada yang diajarkan buku-buku teori.
Kini, aku tidak lagi takut pada ketidakpastian. Aku belajar menerima bahwa hidup adalah serangkaian tantangan yang tidak akan pernah berhenti, tetapi aku memiliki alat dan pengalaman untuk menghadapinya. Kedewasaan bukanlah akhir, melainkan sebuah cara pandang yang lebih lapang dan berani.
Bekas luka ini adalah peta yang menunjukkan seberapa jauh aku telah melangkah, bukan aib yang harus disembunyikan. Aku berterima kasih pada rasa sakit yang dahulu kurutuki, sebab tanpanya, aku tidak akan pernah tahu seberapa kuat aku bisa berdiri di atas kaki sendiri.