Dahulu, aku adalah definisi dari ringan kepala. Hidupku seperti sungai yang mengalir santai, penuh tawa dan minim beban. Aku percaya bahwa badai hanyalah metafora dalam buku, bukan kenyataan yang harus kualami sendiri.
Semua berubah saat Ayah mendadak harus menyerahkan kendali atas usaha kecil keluarga. Beban itu, yang tadinya hanya berupa angka-angka di laporan, tiba-tiba menjelma menjadi tanggung jawab nyata yang harus kupanggul di pundak. Aku yang terbiasa hanya memikirkan rencana akhir pekan, kini harus memikirkan gaji karyawan dan tagihan yang menumpuk.
Awalnya, aku memberontak. Aku merasa dicurangi oleh takdir, marah mengapa kebebasanku direnggut begitu cepat. Banyak keputusan yang kubuat didasari kepanikan, menyebabkan kerugian kecil yang terasa seperti jurang menganga saat itu.
Namun, di tengah malam-malam tanpa tidur saat aku mencoba menyeimbangkan buku besar yang kacau, kesadaran itu datang. Berdiam diri sambil meratapi nasib tidak akan pernah mengubah keadaan. Aku harus memilih: tenggelam dalam kepahitan atau belajar berenang melawan arus.
Aku mulai mendekati para karyawan, belajar dari nol tentang proses yang selama ini kuanggap remeh. Setiap kritik yang kuterima terasa menyakitkan, tetapi aku memaksakan diri untuk mendengarkan, mencatat, dan memperbaikinya. Proses itu mengikis egoku sedikit demi sedikit, menggantinya dengan empati dan ketahanan yang tak pernah kukira kumiliki.
Aku sadar, kesulitan yang kuhadapi ini adalah bagian dari skenario yang lebih besar, sebuah babak penting dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Setiap air mata dan kegagalan adalah tinta yang membentuk karakter, membuat kisahku lebih berwarna dan mendalam.
Kedewasaan ternyata bukan tentang usia, melainkan tentang seberapa cepat kita mampu beradaptasi setelah terjatuh. Aku belajar bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan untuk mengakui kelemahan dan meminta bantuan tanpa merasa malu. Aku mulai menghargai proses, bukan hanya hasil akhir.
Perjalanan ini memang merenggut masa mudaku yang riang, tetapi ia memberiku sesuatu yang jauh lebih berharga: integritas dan kebijaksanaan. Aku kini adalah Risa yang berbeda, seseorang yang mampu menatap badai tanpa gentar, karena aku tahu aku pernah melewatinya.
Pelajaran termahal dalam hidupku adalah bahwa kita tidak pernah benar-benar dewasa sampai kita dipaksa untuk menyelamatkan diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai. Dan kini, setelah badai berlalu, aku bertanya-tanya, apa tantangan tak terduga berikutnya yang telah disiapkan semesta untuk menguji batas kekuatanku?