Langit sore itu seolah ikut menangis, menumpahkan segala duka yang menyesakkan dada. Aku berdiri terpaku di depan pintu tua yang kini terasa begitu asing dan sunyi tanpa sapaan hangatnya.

Kehilangan bukan sekadar tentang kepergian seseorang, melainkan tentang bagaimana kita dipaksa berdiri tegak saat pondasi hidup runtuh. Aku harus belajar memegang kemudi nasibku sendiri tanpa ada lagi tangan yang menuntun di sisiku.

Setiap malam, aku bertarung dengan bayang-bayang kegagalan yang terus membisikkan keraguan di telinga. Namun, di dalam sunyi itu, aku mulai memahami bahwa kedewasaan tidak datang dari angka usia, melainkan dari luka yang berhasil disembuhkan.

Aku mulai menyusun kembali serpihan mimpi yang sempat berantakan karena badai yang tak terduga. Tanggung jawab yang dulu terasa seperti beban berat, kini berubah menjadi kompas yang mengarahkan langkahku menuju cahaya.

Dalam lembaran novel kehidupan yang sedang kutulis ini, aku menyadari bahwa setiap bab kesedihan hanyalah persiapan untuk babak baru yang lebih kuat. Aku bukan lagi remaja yang merengek meminta bantuan, melainkan nahkoda yang siap menerjang ombak setinggi apa pun.

Teman-temanku sibuk mengejar kesenangan sesaat, sementara aku sibuk menanam benih ketabahan di ladang yang gersang. Perbedaan itu tidak lagi membuatku merasa terasing, melainkan membuatku merasa lebih utuh dan memiliki tujuan yang nyata.

Ternyata, menjadi dewasa berarti berani memaafkan masa lalu dan berdamai dengan ketidakpastian masa depan. Aku tidak lagi takut pada kegelapan, karena aku telah menemukan cara untuk menyalakan api di dalam jiwaku sendiri.

Kini, aku berdiri di puncak keputusanku dengan senyum yang lebih tulus meski jejak luka masih membekas samar. Namun, sebuah surat misterius di atas meja kerja ayah membuat jantungku kembali berdegup kencang; mungkinkah ini rahasia yang selama ini ia sembunyikan dari dunia?