Hujan sore itu tidak hanya membasahi bumi, tetapi juga merendam seluruh egoku yang selama ini membumbung tinggi. Aku berdiri di depan pintu rumah lama, menyadari bahwa pelarian yang kulakukan selama ini berakhir di jalan buntu.
Kabar duka yang datang tiba-tiba memaksaku menanggalkan jubah kemanjaan yang biasa kukenakan di kota besar. Kini, hanya ada aku dan setumpuk tanggung jawab yang ditinggalkan ayah tanpa sempat memberi aba-aba sedikit pun.
Setiap sudut rumah ini menyimpan kenangan tentang kegagalanku mendengarkan nasihat-nasihat bijaknya dahulu. Aku baru menyadari bahwa kedewasaan tidak datang melalui perayaan usia, melainkan lewat air mata yang diseka dengan tangan sendiri.
Menjalani hari-hari penuh ketidakpastian ini terasa seperti membaca sebuah novel kehidupan yang alurnya tidak pernah bisa kutebak. Aku belajar bahwa setiap bab yang menyakitkan adalah tinta emas yang membentuk karakterku menjadi jauh lebih tangguh.
Tanganku yang biasanya halus kini mulai kasar karena harus mengurus kebun kopi peninggalan keluarga yang hampir mati. Namun, di antara peluh dan lelah, aku menemukan ketenangan yang tidak pernah kutemukan di bawah lampu neon perkantoran.
Teman-temanku mungkin sedang sibuk mengejar karier mentereng, sementara aku sibuk berdialog dengan tanah dan akar. Ternyata, menjadi dewasa adalah tentang berani memilih jalan yang paling sunyi demi menjaga sebuah amanah yang suci.
Kini aku mengerti bahwa luka bukan untuk diratapi, melainkan untuk dijadikan pupuk bagi pertumbuhan jiwa yang lebih kuat. Di bawah langit yang mulai jingga, aku bersumpah untuk tidak lagi menjadi pengecut yang lari dari kenyataan pahit, meski aku tahu badai yang lebih besar mungkin sedang menanti di ufuk timur.