Hujan sore itu seolah membawa kembali aroma masa lalu yang menyesakkan dada. Aku berdiri di depan jendela, menatap butiran air yang jatuh seperti kepingan kenangan yang tak kunjung usai.

Dahulu, aku mengira bahwa menjadi dewasa hanyalah soal angka dan bertambahnya usia. Namun, sebuah kehilangan besar memaksaku merangkak di antara reruntuhan mimpi yang hancur seketika.

Tidak ada yang memberitahuku bahwa rasa sakit bisa menjadi guru yang paling kejam sekaligus paling jujur. Aku belajar memeluk kesunyian saat dunia di sekitarku terasa begitu bising dengan ekspektasi yang menyesakkan.

Setiap air mata yang jatuh perlahan mengikis ego yang selama ini kubangun dengan sangat angkuh. Aku mulai menyadari bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada seberapa keras kita berteriak, melainkan pada ketenangan saat badai menerjang.

Dalam setiap bab novel kehidupan yang kutulis dengan keringat dan air mata ini, aku menemukan makna pengampunan. Memaafkan diri sendiri ternyata jauh lebih sulit daripada memaafkan kesalahan orang lain yang telah melukai hati.

Kini, langkah kakiku terasa lebih ringan meski beban di pundak belum sepenuhnya hilang dari raga. Aku tidak lagi mengejar pengakuan dunia, melainkan kedamaian batin yang selama ini selalu terabaikan.

Kedewasaan adalah seni untuk tetap berdiri tegak meski akar kita sedang diguncang oleh gempa kehidupan yang hebat. Ia adalah tentang memilih untuk tetap baik, bahkan ketika dunia memberikan alasan untuk menjadi jahat.

Akhirnya aku mengerti bahwa luka bukanlah akhir, melainkan gerbang menuju versi diriku yang lebih bijaksana. Namun, apakah aku benar-benar sudah sampai di garis akhir, ataukah ini baru bab awal dari pendewasaan yang sesungguhnya?