Kereta senja itu membawaku pergi menjauh dari kenyamanan pelukan ibu dan aroma kopi ayah di beranda. Aku melangkah dengan keyakinan angkuh bahwa dunia akan tunduk pada segala ambisi mudaku yang berapi-api.

Namun, kota besar ternyata adalah rimba beton yang tidak peduli pada air mata atau keluhan tentang perut yang lapar. Di sana, aku belajar bahwa harga diri seringkali harus dikesampingkan demi selembar tiket untuk bertahan hidup esok hari.

Malam-malam dingin di kamar kos yang sempit menjadi saksi bisu betapa rapuhnya ego yang selama ini kubanggakan. Aku mulai merindukan teguran keras ayah yang dulu kuanggap sebagai belenggu kebebasanku yang paling menyebalkan.

Saat kegagalan pertama menghantam telak, aku tersadar bahwa hidup bukan sekadar tentang memenangkan perlombaan. Hidup adalah tentang seberapa kuat kita mampu berdiri kembali setelah dihantam badai yang tak pernah kita duga sebelumnya.

Setiap peristiwa yang kualami bagaikan bab-bab penting dalam sebuah novel kehidupan yang sedang kutulis dengan tinta air mata. Kedewasaan ternyata tidak datang bersama angka usia, melainkan melalui luka yang berhasil disembuhkan dengan sebuah penerimaan.

Aku mulai belajar mendengarkan lebih banyak daripada berbicara, memahami bahwa setiap orang memikul beban yang tak terlihat. Kesabaran menjadi teman baru yang menuntunku melewati lorong-lorong gelap ketidakpastian dengan kepala yang tetap tegak.

Kini, cermin di hadapanku tidak lagi memantulkan wajah seorang pemimpi yang naif dan penuh tuntutan kepada semesta. Di sana berdiri sosok yang tenang, yang mengerti bahwa kebahagiaan adalah tanggung jawab pribadi, bukan pemberian dari orang lain.

Kedewasaan adalah saat aku mampu memaafkan masa lalu dan berhenti menyalahkan keadaan atas segala kekurangan yang ada. Aku memilih untuk menjadi nahkoda bagi kapalku sendiri, meski ombak besar masih sering datang menghampiri tanpa permisi.

Perjalanan ini masih panjang, namun aku tidak lagi takut pada kegelapan yang mungkin menghadang di tikungan depan. Sebab, di dalam hati yang telah dewasa, selalu ada cahaya kecil yang menolak untuk padam meski badai menerjang dengan hebatnya.