Hujan sore itu tidak hanya membasahi bumi, tetapi juga meruntuhkan ego yang selama ini kupelihara dengan sombong. Aku berdiri di persimpangan jalan, menyadari bahwa dunia tidak lagi berputar hanya untuk menuruti setiap keinginanku.
Dahulu, aku mengira kedewasaan hanyalah soal angka yang bertambah dan tinggi badan yang kian menjulang. Namun, kenyataan memukulku keras melalui kegagalan besar yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya dalam rencana hidupku.
Kehilangan pegangan finansial memaksaku belajar menghargai setiap butir nasi dan setiap lembar rupiah yang tersisa. Aku mulai memahami bahwa tanggung jawab bukan sekadar kata, melainkan tindakan nyata di tengah badai yang menderu.
Dalam kesunyian malam, aku sering bertanya-tanya kapan beban ini akan terasa lebih ringan untuk dipikul sendirian. Ternyata, bukan bebannya yang mengecil, melainkan bahuku yang perlahan menguat karena terbiasa menahan hantaman keadaan.
Setiap luka dan tawa yang kualami kini tersusun rapi layaknya bab demi bab dalam sebuah novel kehidupan. Aku adalah penulis sekaligus tokoh utama yang harus berani menghadapi konflik tanpa perlu lagi melarikan diri ke balik punggung orang lain.
Menjadi dewasa berarti berhenti menyalahkan takdir atau orang lain atas kemalangan yang menimpa diri sendiri. Aku belajar memeluk kegagalan sebagai guru yang paling jujur dalam mengajarkan arti ketabahan dan kerendahan hati.
Kini, aku tidak lagi mengejar pengakuan dari dunia luar hanya untuk merasa diri ini berharga. Kedamaian batin ternyata jauh lebih penting daripada riuh rendah pujian yang seringkali hanya bersifat sementara dan semu.
Mataku kini memandang dunia dengan lensa yang lebih jernih, penuh empati terhadap luka-luka tersembunyi milik orang lain. Aku menyadari bahwa setiap orang sedang berjuang dalam pertempuran hebat yang mungkin tidak pernah kita ketahui.
Pada akhirnya, kedewasaan bukanlah tentang seberapa banyak kita menang, melainkan seberapa bijak kita saat terjatuh. Apakah kau sudah cukup berani untuk memaafkan masa lalumu dan mulai melangkah kembali dengan luka yang telah mengering?