Langit sore itu seolah menumpahkan seluruh kesedihannya tepat di atas kepalaku yang masih keras kepala. Aku berdiri di depan pintu rumah tua yang kini tak lagi menyimpan hangatnya pelukan Ibu.

Dulu, aku mengira dunia hanyalah taman bermain di mana setiap keinginanku harus terpenuhi tanpa jeda. Namun, kepergian yang mendadak itu merobek selimut kenyamanan yang selama ini melindungiku dari realitas.

Aku harus belajar membedakan antara kebutuhan mendesak dan keinginan yang sekadar memuaskan ego sesaat. Setiap keping logam yang tersisa di dompet kini memiliki suara yang menuntut kebijaksanaan luar biasa.

Perjalanan ini terasa seperti lembaran-lembaran dalam sebuah novel kehidupan yang penuh dengan plot twist tak terduga. Tidak ada lagi tangan yang menyuapiku saat aku terjatuh, hanya ada bayangan diri sendiri yang harus bangkit.

Kesunyian malam menjadi guru terbaik yang mengajarkanku bahwa dewasa bukan tentang angka usia yang bertambah. Dewasa adalah saat kita mampu menelan pahitnya kenyataan tanpa harus menyalahkan keadaan atau orang lain.

Aku mulai merapikan sisa-sisa harapan yang sempat tercecer di sudut ruang tamu yang berdebu. Tangan yang dulunya hanya tahu cara meminta, kini mulai terbiasa menggenggam tanggung jawab yang berat.

Luka-luka kecil akibat kegagalan perlahan mengering, meninggalkan bekas yang mengingatkanku pada kekuatan yang tak pernah kusadari sebelumnya. Aku menemukan bahwa di balik air mata, tersimpan ketangguhan yang hanya bisa lahir dari rasa sakit.

Kini, aku menatap cermin dan melihat sosok yang tak lagi takut pada gemuruh badai di luar sana. Kedewasaan ternyata bukan sebuah tujuan akhir, melainkan sebuah keberanian untuk terus melangkah meski kaki gemetar hebat.