Duniaku dulu adalah garis lurus yang rapi, terukur dalam jadwal harian dan rencana jangka panjang yang tak pernah meleset. Aku bangga pada keteraturan itu, menganggapnya sebagai perisai dari segala bentuk kekacauan yang kulihat di luar sana. Namun, hidup memiliki selera humor yang gelap, dan kenyamanan itu runtuh dalam sekejap, digantikan oleh panggilan telepon yang dingin dan berita yang menghancurkan.

Tiba-tiba, tanggung jawab atas ‘Aksara Senja’—toko buku tua milik keluarga yang kini merugi—jatuh ke pangkuanku. Aku yang hanya tahu cara mengatur spreadsheet kini harus berhadapan dengan tumpukan utang, karyawan yang resah, dan keheningan menyakitkan yang ditinggalkan Ayah di balik meja kerjanya. Rasa panik mencekikku, bercampur dengan kemarahan karena dipaksa meninggalkan zona aman yang kubangun susah payah.

Aku mencoba menerapkan semua teori manajemen yang kupelajari dari buku-buku tebal, berharap kedisiplinan logis dapat menambal lubang emosional ini. Aku merombak tata letak, membuat anggaran yang ketat, dan menjadwalkan promosi besar-besaran, semuanya dengan presisi militer. Namun, pasar tidak peduli pada presisiku; mereka hanya peduli pada koneksi dan relevansi.

Kegagalan pertama datang keras, berupa pembatalan kontrak pemasok buku langka yang sangat kami andalkan, membuatku terduduk di lantai gudang yang berdebu. Air mata yang tumpah bukan lagi air mata kesedihan, melainkan frustrasi murni karena menyadari bahwa penguasaan data tidak sama dengan penguasaan realitas. Aku merasa seperti kapten kapal yang memegang peta usang di tengah badai modern.

Di titik terendah itu, Nenek Tua penjual kopi di seberang jalan menawariku secangkir kopi pahit dan sebuah wejangan sederhana. Katanya, kedewasaan bukanlah tentang seberapa cepat kita menyelesaikan masalah, melainkan seberapa tenang kita menerima bahwa beberapa hal memang tidak bisa kita kendalikan. Itu adalah pelajaran pertama tentang menyerah tanpa menjadi pecundang.

Aku mulai mengubah perspektifku, berhenti memaksa dan mulai mendengarkan—mendengarkan kebutuhan pelanggan, mendengarkan keluh kesah karyawan, dan yang terpenting, mendengarkan suara hatiku sendiri. Fase ini, penuh air mata dan keringat, adalah bagian terpenting dari Novel kehidupan yang harus ia tulis sendiri, tanpa bantuan editor atau korektor.

Perlahan, Aksara Senja mulai bernapas kembali, bukan karena rencana besarku, melainkan karena sentuhan personal yang kubawa. Aku mulai mengadakan klub membaca kecil, dan mengubah sudut gudang menjadi ruang diskusi yang hangat, menyadari bahwa toko buku adalah tentang komunitas, bukan hanya komoditas. Aku belajar bahwa kekuatan sejati terletak pada fleksibilitas, bukan kekakuan.

Risa yang dulu, yang rapuh di balik rutinitas, telah pergi. Bekas luka yang kini kubawa adalah peta petunjuk yang jauh lebih berharga daripada semua sertifikat dan ijazah yang pernah kukumpulkan. Aku menyadari bahwa pengalaman yang membuatku hancur justru adalah pengalaman yang menempaku menjadi versi diriku yang lebih kokoh dan berani.

Aksara Senja belum sepenuhnya aman dari badai, utang masih menanti dan tantangan baru selalu muncul di cakrawala. Namun, kini aku tidak lagi takut. Aku telah menemukan kompas di dalam diriku; sebuah keyakinan bahwa selama aku bernapas, aku mampu beradaptasi dan terus berjalan. Pertanyaannya sekarang, setelah menemukan kekuatan ini, apa lagi yang akan kupilih untuk kuperjuangkan?