Koper cokelat itu teronggok di sudut kamar, debunya tebal, seolah ia menyimpan janji yang tak sempat terwujud. Tiket penerbangan menuju benua lain, yang seharusnya membawaku mengejar impian sebagai fotografer dokumenter, kini hanya menjadi kenangan pahit yang terlipat rapi di laci meja. Ayah sakit, dan bisnis kerajinan kayu yang dirintisnya selama puluhan tahun berada di ambang kehancuran.
Malam itu, di bawah rembulan yang terasa dingin, aku membuat keputusan yang terasa seperti mencabut separuh jiwaku sendiri. Aku menukar lensa kamera dengan palu dan pahat, menukar aroma kota asing dengan bau pernis dan serbuk kayu yang menyengat. Kedewasaan, ternyata, datang bukan saat kita siap, melainkan saat keadaan memaksa kita untuk berdiri tegak.
Awalnya, bengkel itu adalah neraka. Aku tidak mengerti pembukuan, aku tidak mengerti kualitas kayu jati tua, dan aku jelas tidak mengerti bagaimana menghadapi tatapan sinis dari para tukang senior yang meragukan kemampuanku. Setiap hari adalah pertempuran melawan angka merah di laporan keuangan dan rasa frustrasi yang mendalam karena impianku tertunda.
Namun, perlahan, aku mulai melihat keindahan dalam serat kayu yang keras, dalam setiap ukiran rumit yang membutuhkan ketelitian tanpa batas. Aku menyadari bahwa bisnis ini bukan sekadar transaksi, melainkan warisan filosofi ketekunan yang Ayah tanamkan sejak dulu. Aku harus belajar merangkak sebelum bisa berlari di dunia yang asing ini.
Aku mulai menerapkan pelajaran yang tak pernah kudapatkan di bangku kuliah: ketahanan mental. Kegagalan demi kegagalan yang kualami di awal justru menjadi cetakan yang membentuk diriku. Aku belajar bahwa seorang pemimpin sejati adalah ia yang rela mengotori tangannya, bukan hanya memberi perintah dari kejauhan.
Kesadaran itu menghantamku saat subuh, ketika aku menemukan diriku tertidur di samping tumpukan kayu yang baru diampelas. Semua drama, pengorbanan, dan perjuangan ini adalah bagian tak terpisahkan dari apa yang disebut orang sebagai Novel kehidupan. Aku adalah penulisnya, dan aku harus memastikan babak ini berakhir dengan keberanian.
Bisnis perlahan menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pesanan mulai berdatangan, dan yang paling penting, senyum Ayah kembali merekah saat melihatku bernegosiasi dengan pemasok. Aku mungkin kehilangan waktu berharga di masa muda, tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih substansial: rasa memiliki dan kemampuan untuk bertanggung jawab penuh atas takdir orang banyak.
Mimpi untuk bepergian dan mendokumentasikan dunia masih ada, tersimpan rapi di hati, namun kini ia memiliki definisi yang berbeda. Itu bukan lagi pelarian, melainkan tujuan yang akan kucapai setelah tugasku di sini tuntas. Aku tahu, ketika nanti aku pergi, aku akan membawa bekal yang tak ternilai.
Apakah aku benar-benar sudah dewasa? Mungkin belum sepenuhnya, tetapi setidaknya, aku telah belajar bahwa kedewasaan adalah proses tanpa akhir yang diukir oleh luka dan pengorbanan. Dan kini, setelah badai berlalu, aku berdiri di tengah bengkel kayu yang sunyi, bertanya-tanya, pelajaran apalagi yang menanti di tikungan hidup selanjutnya?