Aku selalu berpikir kedewasaan adalah garis finis yang bisa dicapai dengan perencanaan sempurna. Saat itu, aku masih memegang kunci toko buku kecil milik mendiang Kakek, merasa seluruh peta masa depan sudah tergambar jelas di tanganku. Kesombongan muda itu adalah perisai terkuat sekaligus titik terlemahku.

Aku menginvestasikan semua tabungan dan mimpi di sana, mengubahnya menjadi kafe literasi yang ramai dan hangat. Setiap buku yang terjual adalah validasi bahwa aku berada di jalur yang benar, bahwa kerja keras pasti berbuah manis tanpa syarat. Aku lupa bahwa hidup tidak selalu beroperasi dengan logika matematika sederhana.

Badai tak terduga datang bukan dari langit, melainkan dari perjanjian bisnis yang runtuh tanpa peringatan. Dalam hitungan minggu, aku kehilangan segalanya: modal, kepercayaan, dan yang paling menyakitkan, rasa hormat pada diriku sendiri. Puing-puing mimpi itu terasa tajam dan menyesakkan di setiap napas.

Aku mengurung diri, menolak telepon, dan membiarkan debu menumpuk di jendela yang dulunya selalu bersih. Rasa malu karena gagal di usia yang seharusnya penuh energi membuatku merasa seperti penipu ulung. Di titik terendah itu, aku menyadari bahwa aku belum benar-benar mengenal diriku sendiri.

Sampai suatu malam, aku menemukan catatan tua Kakek yang terselip di balik rak buku yang kosong dan lapuk. Ia menulis, "Kegagalan adalah babak paling penting dalam Novel kehidupan; tanpa konflik, ceritanya datar dan membosankan." Kalimat itu menusuk, menyadarkanku bahwa aku terlalu fokus pada sampul yang indah, melupakan esensi dari perjuangan di dalamnya.

Aku mulai membersihkan puing-puing, bukan untuk membangun kembali kafe yang sama, melainkan untuk membangun kembali Risa yang baru. Kedewasaan bukanlah tentang sukses yang instan, melainkan tentang kemampuan untuk bangkit setelah jatuh tanpa menyalahkan takdir. Aku belajar menerima kerentanan sebagai bagian dari kekuatan.

Aku belajar bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan pengakuan jujur atas keterbatasan manusia yang wajar. Perlahan, teman-teman lama datang, menawarkan dukungan tulus yang dulu kupikir tidak kubutuhkan sama sekali. Mereka melihatku bukan sebagai pemilik kafe yang gagal, tetapi sebagai manusia yang sedang berjuang untuk menemukan pijakan.

Kini, aku mungkin tidak memiliki kekayaan materi seperti yang kumiliki dulu, tetapi aku memiliki kekayaan batin yang tak ternilai harganya. Pengalaman pahit itu telah mengasah jiwaku menjadi baja yang lebih lentur dan bijaksana. Aku akhirnya mengerti, proses membuat diriku dewasa adalah proses menerima bahwa ketidakpastian adalah satu-satunya kepastian sejati.

Namun, di balik semua pelajaran yang telah terukir, masih ada satu pertanyaan yang menggantung di udara. Apakah aku benar-benar siap untuk babak baru yang menuntut ini, ataukah pelajaran terberat dalam hidupku baru saja akan dimulai, menanti di tikungan jalan yang belum terjamah?