Gemericik hujan di atap tua itu selalu membawa aroma kenangan yang menyesakkan dada. Aku berdiri di sana, menatap jendela yang kini buram oleh uap dingin dan bayang-bayang masa lalu yang mulai memudar.

Dahulu, aku mengira bahwa menjadi dewasa hanyalah soal bertambahnya angka pada usia yang terus berjalan. Namun, kenyataan menghantamku dengan keras saat tanggung jawab mulai mengetuk pintu tanpa permisi atau peringatan sedikit pun.

Kehilangan yang datang tiba-tiba memaksa egoku untuk luruh dan menyerah pada keadaan yang sulit. Di titik itulah, aku menyadari bahwa air mata bukan tanda kelemahan, melainkan proses pembersihan jiwa yang melelahkan.

Aku mulai belajar mendengarkan keheningan dan memahami bahwa tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban segera. Setiap luka yang tergores di hati perlahan berubah menjadi peta yang menuntunku pulang menuju jati diri yang sesungguhnya.

Dunia tidak lagi terlihat seperti taman bermain yang penuh warna, melainkan medan tempur yang menuntut ketangguhan. Aku berhenti menyalahkan badai dan mulai belajar bagaimana cara menari dengan anggun di bawah guyuran hujan yang deras.

Setiap babak yang kulalui terasa seperti sebuah novel kehidupan yang ditulis dengan tinta kejujuran dan tetesan air mata. Di dalam lembarannya, aku menemukan bahwa kedewasaan adalah tentang keberanian memaafkan diri sendiri atas segala kegagalan masa lalu.

Kini, aku tidak lagi berlari menghindari bayang-bayang kesulitan yang selalu membayangi setiap langkah kaki ini. Aku memilih untuk berdiri tegak, menyambut setiap tantangan dengan senyuman yang jauh lebih tulus dari sebelum-sebelumnya.

Kesabaran menjadi teman karib dalam perjalananku menyusuri lorong-lorong waktu yang penuh dengan misteri. Aku mengerti bahwa proses menjadi bijak tidak bisa dibeli dengan harta, melainkan harus ditempa melalui penderitaan yang panjang.

Pada akhirnya, kedewasaan bukanlah tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa banyak yang bisa kita berikan kepada sesama. Namun, apakah aku benar-benar sudah siap menghadapi babak baru yang jauh lebih menantang di depan sana?