Hujan sore itu tidak hanya membasahi bumi, tetapi juga meruntuhkan benteng perlindungan yang selama ini kubangun dengan nyaman. Kabar duka yang datang tiba-tiba memaksaku berdiri tegak di atas kaki yang selama ini selalu gemetar menghadapi dunia.

Aku yang dahulu hanya tahu cara meminta, kini harus belajar bagaimana caranya memberi tanpa mengharap imbalan kembali. Tanggung jawab besar itu jatuh tepat di pundakku, seolah tak memberi sedikit pun ruang untuk sekadar menarik napas panjang.

Setiap malam, aku merenungi setiap bab dalam novel kehidupan yang sedang kutulis dengan air mata dan keringat. Ternyata, menjadi dewasa bukan tentang bertambahnya angka usia, melainkan tentang seberapa kuat kita mampu mendekap luka tanpa mengeluh.

Aku mulai memahami bahwa dunia tidak akan pernah berhenti berputar hanya karena aku sedang bersedih atau merasa lelah. Ada mulut yang harus diberi makan dan ada harapan orang lain yang harus tetap kujaga meski badai menerjang tanpa henti.

Kesalahan-kesalahan di masa lalu yang dahulu sangat kusesali, kini berubah menjadi guru yang paling bijaksana dalam hidupku. Aku belajar memaafkan diriku sendiri agar bisa melangkah lebih jauh tanpa membawa beban penyesalan yang sia-sia.

Teman-teman sebayaku mungkin masih sibuk dengan hiruk-pikuk pesta, sementara aku sibuk menata masa depan yang tak lagi pasti. Perbedaan itu tidak lagi terasa menyakitkan, melainkan menjadi bukti nyata bahwa jalanku menuju kedewasaan memang berbeda.

Kini, cermin di hadapanku tak lagi menampilkan sosok remaja yang manja dan penuh dengan keraguan yang menghambat. Ada binar ketegaran yang baru di mataku, sebuah tanda bahwa badai telah berhasil kutaklukkan dengan kepala tegak dan hati lapang.

Kedewasaan adalah sebuah perjalanan sunyi yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang berani menghadapi kenyataan pahit dengan senyuman. Namun, apakah aku benar-benar sudah siap menghadapi bab selanjutnya yang mungkin jauh lebih menantang dari semua ini?