Malam itu, rintik hujan seolah menertawakan kegagalanku yang paling menyakitkan. Aku terduduk di sudut kamar, meratapi impian yang baru saja runtuh tanpa sempat aku pertahankan.
Dahulu, aku mengira bahwa menjadi dewasa hanyalah soal pertambahan usia dan kebebasan finansial. Namun, semesta memiliki cara yang lebih keras untuk mengajariku tentang arti tanggung jawab yang sesungguhnya.
Saat kehilangan menyapa tanpa permisi, aku dipaksa berdiri tegak di tengah badai yang meluluhlantakkan egoku. Tidak ada lagi tangan yang bisa kugenggam selain keberanian yang kupaksakan muncul dari dalam dada.
Lembar demi lembar hari kulalui dengan sisa tenaga, mencoba menyusun kembali kepingan diri yang berserakan. Ini adalah sebuah novel kehidupan yang sedang kutulis sendiri, di mana setiap lukanya menjadi tinta yang mempertegas karakterku.
Aku mulai memahami bahwa kedewasaan tidak diukur dari seberapa keras kita berteriak saat terluka. Sebaliknya, ia terpancar dari seberapa tenang kita mampu memaafkan keadaan yang tidak sesuai dengan rencana.
Setiap keputusan pahit yang kuambil perlahan-lahan membentuk fondasi baru yang jauh lebih kokoh dari sebelumnya. Aku belajar untuk tidak lagi menyalahkan takdir, melainkan mencari hikmah di balik setiap peristiwa yang terjadi.
Kini, cermin di hadapanku tidak lagi memantulkan sosok remaja yang penuh amarah dan tuntutan. Ada sorot mata yang lebih teduh, sebuah tanda bahwa badai telah berhasil kutaklukkan dengan penuh kesabaran.
Perjalanan ini memang belum usai, namun aku sudah tidak lagi takut pada gelapnya masa depan yang menanti. Sebab, aku tahu bahwa di dalam diriku telah tumbuh kekuatan yang mampu menyalakan cahaya di tengah kegelapan.
Kedewasaan bukanlah sebuah pelabuhan terakhir, melainkan samudera luas yang menuntut kita untuk terus belajar berlayar. Pertanyaannya, apakah kamu sudah siap menghadapi ombak berikutnya tanpa harus kehilangan arah?