Sebelum badai itu datang, hidupku hanyalah kanvas kosong yang siap kugambar dengan warna-warna paling cerah dari cita-cita. Aku adalah Risa, mahasiswi seni yang yakin bahwa masa depannya ada di galeri-galeri besar kota, jauh dari hiruk pikuk bengkel tenun keluarga di desa. Aku hidup dalam gelembung kenyamanan yang dibangun oleh kerja keras ayah dan ibu.

Namun, sebuah panggilan telepon di tengah malam meruntuhkan seluruh fondasi yang kupercayai. Bengkel Tenun Sari, warisan turun-temurun yang menjadi nadi kehidupan kami, terancam gulung tikar akibat utang yang menumpuk dan kesehatan ayah yang menurun drastis. Tiba-tiba, pilihan di hadapanku menjadi begitu tajam: melanjutkan beasiswa seni atau pulang, memanggul beban yang tidak pernah kubayangkan.

Aku memilih pulang. Meninggalkan gemerlap lampu kota dan impian yang telah kurajut, rasanya seperti memotong sayap sendiri. Kedatanganku disambut tatapan skeptis dari para pekerja senior; mereka meragukan kemampuan gadis muda yang hanya tahu cara membuat sketsa, bukan cara mengelola keuangan dan menenangkan kreditur yang beringas.

Malam-malamku berubah menjadi sesi akuntansi yang rumit dan negosiasi yang melelahkan, jauh dari aroma cat minyak yang kurindukan. Aku harus belajar menelan rasa malu, menghadapi penolakan, dan yang terberat, mengakui bahwa aku tidak tahu apa-apa. Setiap kegagalan kecil terasa seperti pukulan palu yang menghantam ego, tetapi setiap pagi, aku dipaksa untuk bangkit lagi demi nama baik keluarga.

Di tengah kekacauan itu, aku mulai memahami makna kedewasaan yang sesungguhnya. Itu bukan tentang usia, melainkan tentang kesediaan untuk bertanggung jawab atas sesuatu yang jauh lebih besar dari diri sendiri. Aku menyadari bahwa kekuatan tidak datang dari keberhasilan yang mudah, melainkan dari kemampuan untuk tetap berdiri tegak setelah badai mereda.

Perjalanan ini, dengan segala pahit dan manisnya, terasa seperti membaca sebuah buku tebal yang penuh liku. Aku menyadari bahwa apa yang kualami adalah bagian dari Novel kehidupan yang harus kutulis sendiri, babak yang mengubah Risa yang manja menjadi Risa yang tangguh. Setiap benang tenun yang berhasil kujual, setiap senyum lega dari wajah para pekerja, menjadi penanda bahwa aku tidak hanya menyelamatkan bengkel, tetapi juga diriku sendiri.

Setahun berlalu, dan Bengkel Sari kembali bernapas lega, meski belum sepenuhnya pulih. Aku mungkin kehilangan momentum di dunia seni, tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: karakter. Bekas luka yang ada kini bukan lagi aib, melainkan peta yang menunjukkan seberapa jauh aku telah berjalan.

Aku duduk di bangku kayu, memandangi ayah yang kini sudah bisa tersenyum tenang. Aku tahu, impian seni itu masih ada, menunggu di masa depan. Namun, kini aku memandangnya dengan mata yang berbeda, mata yang telah melihat kekalahan dan kemenangan sejati.

Pertanyaannya, setelah semua yang kulalui, apakah aku benar-benar siap untuk kembali mengejar mimpiku, ataukah takdir telah menetapkan jalur yang sama sekali baru bagiku di antara benang-benang tenun ini?