Aku selalu percaya bahwa ambisi adalah bahan bakar terbaik, dan selama beberapa waktu, aku hidup dalam kobaran api semangat yang tak pernah padam. Proyek impianku, yang kubangun dengan keringat dan air mata, adalah segalanya; ia adalah janji masa depan yang cerah, sebuah mahakarya yang akan mengubah dunia kecil kami.
Setiap malam aku hanya tidur beberapa jam, didorong oleh keyakinan buta bahwa kerja keras pasti berujuk pada kemenangan gemilang. Aku mengabaikan peringatan, menepis keraguan, dan berlayar terlalu jauh ke tengah badai, yakin bahwa perahuku takkan pernah tenggelam.
Namun, realitas memiliki cara yang kejam untuk mengoreksi kesombongan. Dalam satu malam yang dingin, pondasi yang kubangun dengan susah payah itu runtuh, meninggalkan puing-puing kegagalan yang tak hanya menghancurkan mimpi, tetapi juga reputasiku. Rasanya seperti seluruh kota menatapku, bukan dengan kasihan, melainkan dengan tatapan penghakiman yang menusuk.
Aku menghabiskan minggu-minggu berikutnya dalam isolasi total, terperangkap di antara tumpukan dokumen yang tak berguna dan rasa malu yang mencekik. Aku merasa diriku adalah kegagalan mutlak, sebuah kesalahan yang tak bisa diperbaiki, dan kedewasaan terasa seperti beban yang terlalu berat untuk dipikul.
Di tengah kehancuran itu, aku menemukan sebuah jurnal lama yang berisi kutipan-kutipan acak tentang daya tahan. Aku sadar, kisah hidupku ini adalah bagian dari babak paling pahit dalam sebuah Novel kehidupan, di mana karakter utama harus jatuh sejatuh-jatuhnya sebelum ia bisa bangkit dengan kebijaksanaan baru. Kegagalan bukanlah akhir, melainkan titik balik.
Proses pemulihan itu lambat, menyakitkan, dan menuntut kerendahan hati yang ekstrem. Aku belajar meminta maaf kepada mereka yang kurugikan, membereskan sisa-sisa kekacauan finansial, dan yang terpenting, memaafkan diriku sendiri atas kebodohan dan kesombongan masa lalu.
Aku mulai melihat dunia bukan lagi sebagai arena kompetisi, melainkan sebagai sekolah tanpa batas. Setiap teguran, setiap penolakan, setiap kesulitan yang menghadang kini terasa seperti kurikulum wajib yang harus kuselesaikan demi mendapatkan gelar "manusia yang utuh." Kedewasaan yang sesungguhnya ternyata tidak diukur dari seberapa besar pencapaianku, melainkan dari seberapa cepat aku bangkit setelah terjatuh dan seberapa tulus aku mengakui kesalahanku. Luka yang dulu terasa memalukan, kini menjadi ukiran indah yang membentuk karakterku.
Aku masih berada di tengah perjalanan, namun kini aku berjalan dengan langkah yang lebih mantap dan pandangan yang lebih jernih. Pertanyaannya, setelah semua pelajaran pahit ini, apakah aku memiliki keberanian untuk memulai lagi, dari nol, dengan risiko kegagalan yang sama besarnya?