Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan adalah pencapaian usia, sebuah angka yang secara otomatis memberiku hak untuk dihormati. Selama ini, hidupku terasa seperti sketsa yang sudah diwarnai, lengkap dengan jaminan kenyamanan yang tak pernah goyah. Aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya mengambil keputusan yang berisiko, apalagi merasakan konsekuensi dari kegagalan yang sesungguhnya.
Semua berubah pada hari ketika tiang penyangga utama dalam hidupku, sosok yang paling kuandalkan, tiba-tiba pergi tanpa aba-aba. Dunia yang kukenal hancur seketika, meninggalkanku di tengah puing-puing tanggung jawab yang jauh melampaui pemahamanku saat itu. Aku harus menghadapi tumpukan surat tagihan dan tatapan mata penuh harap dari orang-orang yang kini bergantung padaku.
Malam-malam awal dipenuhi kepanikan dan rasa tidak kompeten yang menusuk. Aku membuat serangkaian kesalahan fatal dalam manajemen keuangan, yang membuat situasi semakin rumit. Rasanya seperti berenang di lautan badai tanpa pernah diajari cara mengapung; aku tenggelam, berjuang mencari permukaan yang tak kunjung terlihat.
Namun, di tengah keterpurukan itulah, aku menemukan sebuah kekuatan aneh yang selama ini tersembunyi. Kegagalan demi kegagalan yang kualami ternyata bukan akhir, melainkan palu yang memecah cangkang ego dan kepura-puraanku. Aku mulai membaca buku-buku yang kubenci, menghadiri pertemuan yang membuatku gugup, dan belajar menelan rasa malu demi mendapatkan pengetahuan.
Proses itu menyakitkan, layaknya otot yang dipaksa meregang setelah lama tak digunakan. Aku harus belajar bernegosiasi dengan nada suara yang tegas, padahal sebelumnya aku hanya tahu cara meminta dengan manja. Aku mulai menghargai setiap rupiah yang masuk, memahami bahwa pengorbanan kecil hari ini akan menentukan ketenangan di masa depan.
Aku menyadari bahwa setiap pengalaman pahit, setiap air mata yang jatuh karena frustrasi, adalah babak penting dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Ini bukan lagi cerita fiksi tentang pahlawan yang sempurna, melainkan kisah nyata tentang manusia yang berjuang, jatuh, dan kemudian bangkit dengan bekas luka yang memberinya kebijaksanaan.
Perlahan, bayangan diriku yang lama mulai memudar. Aku tidak lagi mencari persetujuan orang lain; validasi terbesar kini datang dari kemampuan diriku sendiri untuk menyelesaikan masalah yang sebelumnya tampak mustahil. Kedewasaan ternyata bukanlah hadiah, melainkan hasil dari kerja keras yang terus-menerus.
Aku kini berdiri tegak, meski kakiku masih gemetar, di atas fondasi yang kubangun sendiri dari reruntuhan masa lalu. Aku tidak sempurna, masih sering ragu, tetapi kini aku tahu cara mencari solusi, bukan sekadar mencari pelarian.
Lalu, sebuah tantangan baru muncul, jauh lebih besar dan kompleks dari sebelumnya, menguji semua yang telah kupelajari. Apakah fondasi yang kubangun ini cukup kuat untuk menahan badai yang akan datang, ataukah aku harus kembali memulai dari nol?