Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan adalah sebuah fase yang datang perlahan, seperti matahari terbit di ufuk timur, indah dan terprediksi. Selama ini, hidupku adalah serangkaian buku tebal, kopi hangat, dan diskusi filosofis yang jauh dari kerasnya realitas. Namun, semua berubah ketika beban tanggung jawab itu mendarat tiba-tiba di bahuku, terasa dingin dan berat seperti bongkahan es.
Toko buku kecil milik Ayah, tempat perlindunganku selama ini, ternyata sedang sekarat. Angka-angka di buku kas yang diserahkan padaku tidak lagi berbicara tentang keuntungan, melainkan tentang hitungan mundur menuju kebangkrutan. Saat itu, aku harus menanggalkan jubah idealisme yang selama ini kukenakan dan mulai berhadapan dengan tagihan, gaji karyawan, dan janji-janji yang harus ditepati.
Tangan yang biasa membalik halaman novel kini harus berurusan dengan kuitansi dan negosiasi harga dengan pemasok yang tak kenal kompromi. Malam-malamku tidak lagi diisi dengan merangkai kata, melainkan menghitung selisih modal dan kerugian yang membuat kepala pening. Aku merindukan diriku yang dulu, yang hanya peduli pada plot twist dan akhir cerita bahagia.
Ada satu sore di mana aku hampir menyerah, duduk di lantai dingin sambil memeluk tumpukan buku yang berdebu, air mata menetes membasahi sampul. Rasa takut akan kegagalan begitu mencekik, membuatku mempertanyakan apakah aku memang pantas memimpin. Namun, saat kulihat foto Ayah tersenyum di balik meja kasir, aku sadar bahwa kehancuran toko ini bukan hanya kerugian finansial, melainkan juga hilangnya warisan dan harapan.
Aku memutuskan untuk bangkit, meski lututku gemetar. Aku mulai mencari cara baru, mengubah sudut toko menjadi kafe mini, dan belajar meracik kopi dengan resep rahasia yang bahkan tidak pernah diajarkan di bangku kuliah. Setiap penolakan dari pelanggan atau setiap kesalahan dalam pembukuan adalah cambuk yang memaksa otot mental ini untuk menguat.
Di sinilah aku menyadari bahwa dunia nyata adalah sebuah panggung yang jauh lebih kompleks dan brutal daripada fiksi manapun. Aku mulai melihat setiap orang yang masuk ke toko bukan lagi sebagai figuran, melainkan sebagai karakter utama dengan kesulitan mereka sendiri. Inilah yang sesungguhnya disebut Novel kehidupan, sebuah kisah tanpa editor yang harus kujalani hingga tuntas.
Proses pendewasaan ini tidak datang dengan tepuk tangan atau sertifikat kelulusan; ia datang dengan kantung mata yang menghitam dan bekas luka dari keputusan yang salah. Aku belajar bahwa menjadi dewasa bukan berarti tahu segalanya, melainkan mengakui bahwa kita tidak tahu apa-apa dan tetap berani melangkah maju.
Kini, toko itu kembali bernapas, meski pelan. Cahaya yang masuk dari jendela sore hari menerangi debu yang menari di udara, membuatku tersenyum tipis. Aku mungkin kehilangan kepolosan masa muda, tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: kekuatan untuk bertahan.
Meskipun aku telah berhasil melewati badai yang pertama, aku tahu badai lain pasti akan datang. Dan saat aku menutup buku kas malam ini, aku bertanya pada diriku sendiri, apakah wanita yang berdiri di sini sekarang—yang tangguh dan penuh perhitungan—masih mengenal gadis pemimpi yang dulu?