Dunia yang kukenal runtuh tanpa peringatan, secepat daun yang gugur di musim kemarau panjang. Aku, yang selama ini hanya sibuk merangkai melodi dan sketsa masa depan yang cerah, tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan yang dingin dan keras. Impianku untuk menjadi seorang seniman terpaksa kusimpan rapat di laci terkunci, digantikan oleh tumpukan faktur dan laporan keuangan yang tak pernah kumengerti.

Ayah sakit keras, dan bengkel kayu keluarga yang telah berdiri selama tiga generasi berada di ambang kebangkrutan. Rasa takut bercampur amarah memenuhi dadaku; aku merasa dicabut paksa dari masa mudaku. Malam-malam yang seharusnya kuhabiskan di studio kini kuhabiskan di antara serbuk gergaji dan bau pernis, mencoba memahami mesin-mesin yang terasa asing dan menakutkan.

Awalnya, aku memberontak. Setiap pagi adalah siksaan, setiap teguran dari karyawan lama terasa seperti hinaan atas ketidakmampuanku. Aku merindukan kebebasan, merindukan kanvas kosong yang bisa kuisi sesuka hati, bukan kayu keras yang harus dipotong sesuai permintaan pasar yang kejam.

Puncaknya terjadi saat kami kehilangan kontrak besar. Aku duduk di lantai bengkel yang gelap, merasa gagal total, air mata yang selama ini kutahan akhirnya tumpah membasahi debu. Saat itulah Pak Tua Mamat, kepala tukang yang sudah mengabdi sejak Ayahku remaja, menghampiriku tanpa berkata-kata.

Ia hanya meletakkan secangkir kopi panas di sampingku dan berkata, "Kayu yang paling kuat adalah kayu yang paling banyak melalui tekanan, Nak. Kau harus diampelas, dicat, dan dijemur berkali-kali sebelum menjadi perabotan yang berharga." Kata-katanya bukan hanya nasihat, melainkan sebuah cermin yang menunjukkan betapa mentahnya diriku.

Sejak hari itu, aku mengubah sudut pandang. Aku berhenti melihat tanggung jawab ini sebagai beban, tetapi sebagai sekolah paling mahal dan nyata yang pernah kudapatkan. Aku mulai belajar dari nol, memegang pahat, memahami tekstur jati, dan bahkan belajar tawar-menawar dengan pemasok yang licik.

Aku menyadari bahwa setiap kesulitan, setiap kerugian, dan setiap tetes keringat adalah babak penting dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Cerita ini mungkin tidak seindah sketsa yang kubayangkan dulu, tetapi ia jauh lebih kaya, lebih bertekstur, dan penuh dengan karakterisasi yang mendalam.

Perlahan, bengkel itu mulai bangkit. Kepercayaan pelanggan kembali, bukan karena nama besar Ayah, tetapi karena ketekunan dan kualitas yang kubawa. Aku tidak lagi merasa terpaksa; aku merasa memiliki. Aku bukan lagi Arya si pemimpi, tetapi Arya si pembuat, si penanggung jawab.

Kedewasaan yang kudapatkan bukan hadiah ulang tahun yang manis, melainkan luka yang sembuh dan meninggalkan parut yang indah. Parut itu adalah peta yang menunjukkan semua jalur sulit yang telah kulalui. Dan ketika aku akhirnya berhasil melunasi semua utang lama, aku menyadari satu hal: aku mungkin kehilangan seniku, tetapi aku menemukan diriku yang sejati—seorang pria yang tidak akan pernah lari dari badai.