Aku selalu percaya bahwa hidup adalah kanvas cerah yang bisa kugambar sesuka hati, penuh warna-warna pastel dan janji-janji indah. Sebelum badai pertama datang, aku adalah seorang pemimpi yang naif, yakin bahwa semangat saja cukup untuk menaklukkan kerasnya realitas. Segala hal terasa mudah, seolah-olah semesta berkonspirasi untuk memuluskan setiap langkahku.
Proyek ambisius yang kubangun sejak kuliah, sebuah galeri seni independen yang seharusnya menjadi mercusuar kreativitas, adalah jantung dari semua idealismeku. Aku mendedikasikan setiap jam, setiap rupiah, dan seluruh energi mudaku untuk membuatnya berdiri tegak. Aku melihatnya bukan hanya sebagai bisnis, tetapi sebagai perpanjangan dari jiwaku yang bebas.
Namun, realitas tak pernah peduli pada seberapa besar cinta yang kita tanam; ia hanya peduli pada fondasi yang kuat. Krisis ekonomi yang tak terduga menghantam, dan dalam hitungan minggu, mercusuar kebanggaanku mulai retak. Aku menyaksikan perlahan-lahan impian itu runtuh, meninggalkan puing-puing pinjaman yang menumpuk dan rasa malu yang menghimpit dada.
Malam-malam setelah keruntuhan itu adalah jurang gelap yang kumasuki sendirian, dipenuhi tangisan sunyi dan pertanyaan tanpa jawaban. Aku mencari kambing hitam; menyalahkan pasar, menyalahkan investor, bahkan menyalahkan nasib buruk yang seolah hanya menimpaku. Rasanya dunia terlalu kejam untuk seorang pemimpi sepertiku.
Titik baliknya datang ketika Ibu, tanpa banyak bicara, menyerahkan buku tabungannya yang hampir kosong. Ia tidak memberiku solusi, ia hanya memberiku cermin. Saat itulah aku menyadari, kedewasaan bukanlah tentang menghindari kesalahan, melainkan tentang keberanian untuk membersihkan kekacauan yang kita buat sendiri.
Aku mulai bekerja dari nol, mengambil pekerjaan serabutan yang jauh dari gemerlap galeri. Rasa lelah fisik yang mendera setiap hari perlahan mengikis kesombongan dan keangkuhan yang dulu kupelihara. Aku belajar bahwa tanggung jawab adalah beban yang harus dipikul dengan kedua bahu, bukan sekadar kata-kata manis di seminar motivasi.
Melalui proses yang menyakitkan ini, aku mengerti bahwa setiap kegagalan, setiap penolakan, adalah babak wajib dalam Novel kehidupan yang harus kita tulis. Babak-babak inilah yang membentuk karakter, mengasah empati, dan mengajarkan kita nilai sejati dari kerendahan hati. Aku berhenti mencari jalan pintas dan mulai menghargai setiap langkah yang penuh perjuangan.
Pandanganku terhadap orang lain pun berubah drastis; aku tak lagi menghakimi kesuksesan yang terlihat mudah, karena aku tahu setiap pencapaian pasti didahului oleh malam-malam tanpa tidur dan air mata yang tak terhitung. Kedewasaan ternyata adalah proses melihat dunia dengan lensa yang lebih jujur, tanpa filter idealisme masa muda.
Kini, aku mungkin belum kembali pada impian besarku yang dulu, tetapi aku berdiri di atas fondasi yang jauh lebih kokoh. Aku telah kehilangan banyak hal, tetapi aku mendapatkan diriku yang sesungguhnya—pribadi yang tidak lagi takut pada badai. Pertanyaannya, setelah semua pelajaran ini, apakah aku siap untuk badai berikutnya yang pasti akan datang?