Pintu kayu mahoni itu terasa dingin saat Risa menyentuhnya, seolah ia bisa merasakan kegagalan yang baru saja merobek mimpinya hingga berkeping-keping. Suara notifikasi penolakan dari universitas impiannya jauh lebih sunyi daripada kehampaan yang kini memenuhi ruang tamu. Ia pikir, kesedihan adalah batas terberat yang harus ia hadapi.
Namun, hidup selalu punya kejutan yang lebih pahit. Malam itu, Ayah dilarikan ke rumah sakit, dan bersamaan dengan itu, Risa baru tahu bahwa Sangkar Kayu—bengkel ukir warisan keluarga yang selalu ia anggap remeh—berada di ambang kebangkrutan. Tiba-tiba, ambisi pribadinya harus ditukar dengan tanggung jawab yang tidak pernah ia minta.
Ia memasuki bengkel itu dengan perasaan benci; bau serbuk kayu yang tajam terasa seperti simbol masa depan yang dipaksakan. Risa, lulusan terbaik yang seharusnya belajar di luar negeri, kini harus berhadapan dengan tumpukan tagihan yang menggunung dan pandangan meremehkan dari para pekerja tua. Ia merasa terkutuk dan terperangkap.
Langkah pertama adalah yang paling menyakitkan: mengakui ketidaktahuan. Ia yang selama ini hanya melihat bengkel sebagai tempat kotor, kini harus duduk di samping Pak Jaya, mandor yang paling keras kepala, memintanya mengajarinya membedakan jenis kayu. Rasa malu dan ego harus ia telan bulat-bulat demi menyelamatkan apa yang tersisa.
Malam-malam Risa kini dihabiskan bukan untuk membaca buku filsafat, melainkan untuk mempelajari pembukuan yang berantakan dan menghitung ulang stok bahan baku. Ia mulai memahami bahwa mengelola kehidupan nyata jauh lebih rumit daripada menyelesaikan persamaan matematika yang paling sulit sekalipun.
Setiap kegagalan kecil—kayu yang salah potong, pesanan yang dibatalkan—menjadi cambuk yang memaksa Risa untuk bertumbuh. Ia menyadari bahwa kedewasaan bukanlah hadiah yang datang seiring usia, melainkan hasil dari pertarungan sengit antara keinginan pribadi dan kebutuhan orang banyak. Inilah babak terberat dalam Novel kehidupan yang harus ia tulis sendiri, tanpa editor, tanpa penghapusan.
Setelah berminggu-minggu tanpa tidur, Risa akhirnya berani mengambil risiko: mendesain ulang produk ukiran tradisional menjadi barang-barang modern yang lebih diminati pasar muda. Ketika pesanan pertama untuk seri "Lampu Senja" datang, air mata Risa menetes, bukan karena sedih, melainkan karena merasakan beban yang perlahan terangkat dari pundaknya.
Ia tidak lagi melihat Sangkar Kayu sebagai penjara, melainkan sebagai sebuah kapal yang harus ia kemudikan melewati badai. Risa belajar empati, belajar bahwa setiap orang di bengkel itu punya keluarga yang bergantung padanya, dan bahwa keputusannya kini berdampak pada banyak nyawa.
Bengkel itu kini kembali berdenyut, namun Risa tahu, ini baru awal. Utang warisan masih panjang, dan persaingan pasar semakin tajam. Ia menutup pintu bengkel di bawah rembulan, tangannya yang kasar kini memegang kunci, bukan lagi pena. Jika dulu ia mengejar mimpi, kini ia membangunnya dari puing-puing kenyataan. Ia telah menjadi dewasa, tetapi ia bertanya pada dirinya sendiri: apakah harga kedewasaan ini terlalu mahal untuk dibayar?