Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan adalah pencapaian yang otomatis datang seiring bertambahnya usia, seperti hadiah yang dibungkus rapi. Dalam bayangan idealisku, hidup adalah garis lurus yang menanjak, penuh pencapaian dan tepuk tangan meriah. Aku merayakan ulang tahun ke-22 dengan keyakinan buta bahwa dunia akan selalu berpihak pada ambisiku yang murni.
Namun, semesta punya cara tersendiri untuk menguji keyakinan itu. Sebuah badai tiba-tiba menerpa Yayasan keluarga, yang selama ini menjadi payung pelindung bagi ratusan orang. Ketika laporan keuangan yang suram terkuak, aku mendapati diriku bukan lagi seorang idealis, melainkan penerus yang harus membersihkan kekacauan yang tak pernah kubayangkan.
Malam-malam panjang dihabiskan untuk membaca angka-angka yang terasa seperti tombak dingin menusuk dada. Rasa marah, kecewa, dan ketakutan bercampur menjadi satu, membuatku sempat lumpuh. Bagaimana mungkin sebuah fondasi yang dibangun di atas niat baik bisa runtuh secepat ini? Aku menangisi hilangnya masa depan yang telah kurancang, dan juga hilangnya sosok diriku yang naif.
Titik balik itu datang saat aku melihat mata para pekerja yang menggantungkan hidup mereka pada keputusan yang akan kubuat. Tangisan harus dihentikan; emosi harus dikesampingkan. Aku harus bertindak, bukan sebagai anak yang terluka, melainkan sebagai nakhoda yang bertanggung jawab atas kapal yang hampir tenggelam.
Keputusan-keputusan sulit mulai bermunculan, memaksa aku memotong bagian-bagian yang paling kucintai dari yayasan demi menyelamatkan inti utamanya. Aku harus menghadapi tatapan kecewa dari orang-orang yang kukenal, bahkan dari beberapa kerabat dekat yang merasa keputusanku terlalu kejam. Itu adalah kali pertama aku merasakan betapa beratnya memikul beban yang dampaknya terasa nyata bagi kehidupan orang lain.
Di tengah perjuangan yang sunyi itu, aku menyadari bahwa inilah plot utama dari *Novel kehidupan* yang sesungguhnya. Bukan kisah tentang kemenangan yang mudah, melainkan tentang daya tahan menghadapi kepahitan. Aku belajar bahwa integritas tidak diuji saat kita sukses, melainkan saat kita harus memilih antara popularitas dan kebenaran yang menyakitkan.
Perlahan, aku melihat perubahan pada diriku sendiri. Caraku berbicara menjadi lebih terukur, tatapanku lebih tajam, dan reaksiku tidak lagi didominasi oleh amarah sesaat. Luka-luka finansial itu meninggalkan bekas, tetapi bekas itu berfungsi sebagai kompas, mengingatkanku pada harga dari setiap janji dan setiap risiko yang diambil.
Kedewasaan, ternyata, bukanlah tentang usia yang bertambah, melainkan tentang seberapa banyak kita berani bertanggung jawab atas kesalahan—milik sendiri maupun milik orang lain. Aku tidak lagi mencari tepuk tangan, tetapi mencari ketenangan batin karena telah melakukan hal yang benar, meskipun itu berarti aku harus berdiri sendirian.
Kini, yayasan itu berdiri kembali, lebih ramping dan lebih kuat. Aku melihat ke belakang pada gadis idealis yang dulu, dan tersenyum. Dia telah pergi, digantikan oleh seorang wanita yang tahu bahwa hidup tidak menjanjikan keadilan, tetapi menuntut ketangguhan. Lantas, badai apa lagi yang harus kuterjang untuk membuktikan bahwa pelajaran ini telah mendarah daging? Aku hanya bisa menanti, sambil menggenggam erat kemudi yang kini terasa pas di tanganku.