Aku selalu percaya bahwa bakat adalah mata uang tertinggi di dunia ini, dan aku memilikinya berlimpah. Dengan kuas di tangan dan ambisi yang membara, aku yakin bisa menaklukkan panggung seni tanpa perlu mendengarkan nasihat siapa pun. Kesombongan tipis itu menjadi perisai yang membuatku buta terhadap kerentanan dan kebutuhan untuk belajar dari orang lain.
Pukulan itu datang secepat badai, menghancurkan pameran tunggal yang telah kurancang selama berbulan-bulan hanya karena kesalahan teknis yang kuabaikan. Aku menolak saran rekan kerjaku untuk melakukan pengecekan ulang, menganggap mereka terlalu cerewet dan meragukan keahlianku. Saat kanvas-kanvas mahal itu ambruk di tengah keramaian, yang kurasakan bukanlah malu, melainkan kemarahan yang membabi buta.
Beberapa minggu setelah insiden itu, aku mengunci diri dalam studio yang terasa dingin dan kosong. Aku menyalahkan nasib, menyalahkan kualitas bahan, menyalahkan semua orang kecuali diriku sendiri yang terlalu keras kepala. Rasa sakit kegagalan itu terasa seperti racun yang perlahan menggerogoti keyakinanku, meninggalkan residu kepahitan yang sulit dihapus.
Titik balik itu terjadi saat aku menemukan catatan lama milik mendiang kakekku, seorang pemahat kayu ulung. Beliau menulis bahwa kayu terbaik pun akan retak jika dipahat tanpa kesabaran dan tanpa memahami seratnya. Aku tersentak; selama ini, aku memahat hidupku sendiri dengan tergesa-gesa, menuntut kesempurnaan tanpa mau mengakui proses dan kerapuhanku.
Aku mulai memberanikan diri menemui orang-orang yang pernah kutinggalkan dan kusakiti dengan lidah tajamku. Meminta maaf bukanlah hal yang mudah bagi seseorang yang terbiasa hidup dalam ilusi kesempurnaan. Namun, setiap kata maaf yang kuucapkan terasa seperti membersihkan debu tebal dari hati yang telah lama berkarat.
Aku menyadari bahwa kedewasaan sejati bukanlah tentang seberapa banyak pencapaian yang kita raih, melainkan seberapa besar kita mampu menerima kekurangan dan berempati. Kegagalan ini adalah babak paling krusial dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis, sebuah babak yang mengajarkan bahwa luka adalah tinta yang paling jujur.
Proses pemulihan ini lambat, seringkali menyakitkan, dan jauh dari gemerlap. Aku belajar menghargai kolaborasi, mendengarkan kritik dengan pikiran terbuka, dan yang terpenting, mengakui bahwa aku hanyalah manusia biasa. Aku mulai melihat dunia bukan sebagai panggung untuk unjuk gigi, tetapi sebagai ruang belajar yang tak pernah berhenti.
Setiap goresan kuas yang kubuat kini terasa lebih tenang, lebih jujur, dan memiliki kedalaman yang tidak pernah ada sebelumnya. Aku tidak lagi melukis untuk mencari pengakuan, tetapi untuk memahami dan menyampaikan cerita. Rasa sakit itu tidak hilang sepenuhnya, tetapi telah bertransformasi menjadi kebijaksanaan yang menuntunku.
Aku berdiri di ambang pintu studio yang kini terasa hangat, cahaya sore menyentuh wajahku. Aku tahu, perjalanan ini baru dimulai, dan mungkin akan ada kegagalan lain di depan. Tapi kini aku siap, sebab aku telah belajar bahwa menjadi dewasa berarti menerima bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu segalanya, dan itulah kekuatan terbesarku.