Aku ingat diriku yang dahulu, seorang idealis muda yang percaya bahwa hidup berjalan linear: belajar keras, sukses, dan kebahagiaan akan otomatis mengikuti. Dunia terasa seperti kanvas yang baru saja disiapkan, menunggu goresan indah dari kuas impian yang telah lama kurawat. Namun, takdir memiliki skenario yang jauh lebih rumit, jauh lebih kasar.
Titik baliknya terjadi ketika surat penolakan itu datang, bukan dari universitas, melainkan dari kenyataan. Kegagalan besar dalam proyek yang kupertaruhkan segalanya, membuat seluruh rencana masa depanku runtuh dalam semalam, dan tanggung jawab keluarga tiba-tiba jatuh ke pundak yang belum siap memikul beban seberat itu. Rasa malu dan kekecewaan terasa seperti lumpur tebal yang menghambat setiap langkah.
Aku terpaksa menanggalkan jubah impian dan mengenakan pakaian kerja yang terasa asing dan berat. Hari-hariku berganti dari buku-buku tebal dan diskusi filosofis menjadi hitungan angka dan tatapan kosong di meja kasir yang sepi. Aku sering bertanya pada cermin, di mana letak keadilan dalam perjuangan yang begitu melelahkan ini.
Setiap tetes keringat yang jatuh, setiap malam yang kuhabiskan tanpa tidur karena memikirkan tagihan, adalah pelajaran yang tak pernah kuterima di bangku sekolah mana pun. Aku belajar membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan, belajar menelan harga diri demi mencari nafkah, dan yang terpenting, belajar bahwa kelemahan bukanlah aib, melainkan ruang untuk bertumbuh.
Dalam keheningan malam, sambil merenungkan babak baru yang penuh tantangan ini, aku menyadari bahwa inilah sesungguhnya yang dinamakan Novel kehidupan. Plotnya tidak selalu indah, karakternya sering kali menyakitkan, tetapi setiap konflik dan resolusi adalah tinta emas yang membentuk karakterku. Kedewasaan bukanlah hadiah yang diberikan usia, melainkan hasil pahit dari proses tempaan.
Perlahan, aku mulai melihat keindahan di balik rutinitas yang monoton itu. Aku menemukan empati baru terhadap orang-orang yang juga berjuang, dan aku menemukan kekuatan yang selama ini tersembunyi di sudut jiwaku. Kehilangan yang kualami ternyata membuka mataku pada kekayaan batin yang jauh lebih berharga daripada gelar atau jabatan.
Aku mulai menerima bahwa masa lalu tidak bisa diubah, tetapi masa depan selalu bisa dirangkai ulang dengan benang yang lebih kuat. Rasa sakit itu tidak hilang, ia hanya berubah wujud menjadi fondasi yang kokoh, membuatku lebih stabil dan tidak mudah goyah oleh badai berikutnya.
Kini, aku tidak lagi takut pada kegagalan; aku takut pada stagnasi. Pengalaman pahit telah mencabut akar idealismeku yang naif, menggantinya dengan realisme yang penuh harapan. Aku mengerti bahwa kedewasaan sejati adalah ketika kita mampu memeluk luka kita sendiri dan menjadikannya sumber kekuatan.
Maka, ketika aku menutup mata malam ini, aku tahu bahwa kisah ini belum berakhir. Meskipun aku telah menemukan kedamaian dalam penerimaan, masih ada babak tak terduga yang menunggu di halaman berikutnya. Pertanyaannya, setelah semua yang kulewati, apakah aku benar-benar siap menghadapi ujian berikutnya yang mungkin lebih besar, yang menuntut pengorbanan yang lebih dalam?